Showing posts with label hubunganinternasionalunpad2007nya D. Show all posts
Showing posts with label hubunganinternasionalunpad2007nya D. Show all posts

Thursday, October 07, 2010

Berburu Tiket

Selamat malam semuanya, untuk yang berada di Indonesia dan sekitarnya.

Kali ini saya sedikit super-excited dan super-pusing.

Jadi, kami-kami ini yang sudah tingkat 4, selain mempunyai kewajiban untuk segera mendaftarkan diri sebagai salah satu penstudi HI yang akan menuliskan skripsinya, di mana saya masih stuck di milih judul, ternyata juga mempunyai kewajiban yang disambut sukaria oleh semua, yaitu .... Praktikum Profesi.

Praktikum profesi seyogyanya adalah wadah bagi kami untuk mengaplikasikan apa aja yang dapat kami serap di kelas dalam sebuah kegiatan observasi lapangan. Dibawah naungan Laboratorium HI dan Jurusan HI UNPAD, kami akan mengamati serta mensimulasikan hasil observasi lapangan kami dalams sebuah pameran nantinya. Beban kreditnya juga cukup lumayan, 3 SKS. Dan pastinya semua berharap tidak mengulang, karena 'tradisinya' ini adalah acara per-angkatan.

Jadi kabar tentang praktikum ini sudah berhembus sejak akhir semester lalu. Merujuk pada praktikum sebelumnya, kami nati akan memilih destinasi, yang tentunya disesuaikan dengan banyak faktor, untuk kemudian melakukan beberapa kunjungan ke institusi yang berkaitan. Saya dan beberapa teman saya sudah mantap memilih Australia sebagai destinasi kami nantinya. Pertimbangannya, Australia itu luar negeri, relatif jauh, dan berbahasa Inggris. Bisa dibilang satu-satunya negara barat di wilayah Asia ini. Kami juga memperjuangkan agar kami bisa pergi dengan 'gaya kami', demi menekan pengeluaran, yang mudah-mudahan bisa dialokasikan ke pos lainnya, belanja mungkin.

Tapi itu cerita dulu, sebelum saya bertolak selama dua bulan di Korea. Ditunggu-tunggu kok ya belum pasti programnya, akhirnya, saat sebelum saya ke Korea, proyek kami ini dipetieskan. Berimbas pada pengeluaran selama di Negeri Gingseng, yang artinya, tidak menabung.

Angin segar datang awal minggu ini, bahwa dengan sistem praktikum baru, segala keinginan kami bisa diakomodir. Mulailah kami, yang dulunya sudah berangan-angan akan ke benua Kangguru, melelehkan lagi rencana itu. Dengan batas waktu pengumpulan hasil yang hampir dua bulan lagi, kami main-main dengan waktu.

Saudara-saudara, satu hal yang membuat ribet saat mau ke luar negeri menurut saya ada dua : tiket dan Visa. Untuk Visa Australia, saya baru saja chatting dengan teman saya yang juga ke New York bareng setahun yang lalu, menurutnya Visa Australia tidak akan seribet Visa US. Saya juga sudah survey di internet mengenai proses pembuatannya, yag mudah-mudahan tidak ribet.

Nah, jadinya masalahnya tinggal satu kan : tiket. Entah mengapa tiket ini kok ya ngeribetin banget. Direct flight dari Jakarta-Melbourne hanya dimiliki oleh Garuda Indonesia, dan harnganya lumayan, Untungnya akan ada GAFAIR 2010, yang memberikan potongan harga hampir 50%. Sayangnya, kalau memang kami niat ngejar tiket ini, kami harus sudah siap booking ... akhir minggu ini. Gosh!

Pilihan kedua adalah Qantas, yang meski beda 100 USD dengan tiket GA promo, tapi mudah-mudahan masih banyak tersedia. Oh iya, Qantas juga ga direct Melbourne, harus transit di Sydney dulu ternyata.

100 USD, satu jeans lah ya, atau support makan satu minggu. Hmmmmm.

Berburu tiket itu emang asik! Menelusuri website setiap maskapai dengan harapan ada tiket murah dengan destinasi impian. Kadang-kadang buat penyemangat saya setiap pagi.

Tapi entah mengapa, kali ini terasa ribeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet aja!



David

Sunday, October 03, 2010

Balada Tahun Keempat

Tidak terasa, sudah tiga tahun lamanya saya di Jatinangor untuk menuntut ilmu. Meskipun lebih banyak mainnya daripada di kelasnya, ada perasaan tersendiri ketika KRS awal tahun ajaran ini. Beban SKS mulai meringan seiring berjalannya waktu akademis, namun bukan berarti beban hidup juga turun dengan drastisnya. Entah kenapa, awal tahun ini seakan menjadi titik mula pembuktian saya dan teman-teman satu angkatan akan apa yang telah kami lakukan selama tiga tahun ke belakang. Ya, kawah candradimuka sudah di depan mata kawan-kawan! Siap ga siap, itulah realita.

Di mulai dengan adanya pilihan untuk mencantumkan Usulan Penelitian (yang berbobot 3 kredit) dan Skripsi (yang berbobot 6 kredit) pada rencana studi kami semester ini. Skripsi adalah kawah candradimuka itu! Peru tenaga lebih yang disalurkan, ini bukan hanya makalah 50 lembar untuk Tugas Akhir. Bisa dibilang, inilah pembuktian kami pada banyak pihak, mulai dari orang tua, teman, hingga dosen, bahwa selama tiga tahun kami menyerap apa yang dibincangkan di kelas. Kami memahami betul setiap teori dan aplikasinya. Dan kami kreatif serta inovatif dalam menuliskannya.

Mulailah kami menjadi makhluk-makhluk yang rajin ke perustakaan. Mencari ilham untuk tiga tema pra-usulan yang nantinya akan menentukan langkah selanjutnya. Saya pribadi baru mantap dengan dua angan-angan di kepala, sangat berat untuk merangkainya menjadi kata-kata satu halaman masing-masing tema. Teman saya ada yang sudah mengajukan judul, bahkan menjalani seminar usulan. Saya seakan-akan jalan di tempat! Hanya bermimpi sembari tanya sana tanya sini.

Bertanya pada kakak kami yang suda lulus, sudah sidang skripsi, sudah UP, sedang bimbingan mengakibatkan saya berkesimpulan bahwa pengalaman yang dilalui akan beragam. Saya takut, takut membanyangkan bagaimana saya nantinya! apakah target lulus Agustus ini tercapai? Atau saya akan menjadi sebagaian yang entah bagaiamana caranya akan berurusan lama dengan skripsi?

Maka seakan ada alarm kencang yang dibunyikan, "Hei kalian 2007, sudah saatnya bersikap dan menghasilkan sesuatu". Ada deadline yang harus dipenuhi.

Semoga balada ini akan dilalui dengan penuh sukacita, bukan dengan nestapa.

Semoga ...



David

Sunday, January 10, 2010

When It Comes to An End

Terkadang, perpisahan bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Bahkan bagi saya, perpisahan selalu menjadi sebuah hal yang sangat menyedihkan. Masih teringat bagaimana saya harus berpisah dengan Bandung dan pindah ke Pekalongan, beberapa tahun yang lalu. Atau momen-momen kepindahan saya ke Bandung (lagi) untuk kuliah. Semuanya mengharukan dan menjadi dua titik dalam hidup saya. Titik perpisahan dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharian dan juga titik awal sebuah babak baru.

9 November lalu, saya mengalami lagi perpisahan. Perpisahan pada suatu hal yang telah saya dan teman-teman perjuangkan sejak tujuh bulan sebelumnya. Perpisahan saya dengan SYMPHONESIA 2009.

Sesuai dengan rencana, SYMPHONESIA 2009 diselenggarakan pada 8 dan 9 November 2009 di 3 lokasi yang berbeda. Ruang Maluku Hotel Grand Aquilla, Jalanan dari Dipati Ukur hingga depan Gedung Sate, dan (sekali lagi) Sasana Budaya Ganesha menjadi tempat perpisahan itu, seklaigus tempat pembuktian...

... bahwa dengan segala rintangan yang ada, kami berhasil mewujudkan SYMPHONESIA 2009.

Ya, dimulai dengan pencalonan Ketua SYMPHONESIA 2009, yang akhirnya menjadikan Adya Widyadhana menjadi salah satu mahasiswa tersibuk selama setenga tahun kebelakang. Dan dimulailah fase-fase diskusi hingga tengah malam untuk menentukan tema dan lain-lainnya. Setelah memilih tema ASEAN untuk tahun ini, sata pun ditunjuk sebagai Program Director atau Koordinator Acara. Believe me, ini pertama kalinya saya menjadi koordinator untuk sebuah acara yang skalanya ASEAN, dan saya terima tugas ini sebagai sebuah tantangan dan arena pembelajaran bagi saya. Tentu saja, banyak hal yang dapat saya pelajari dengan bergabung dalam kepanitiaan saya kali ini. Selain belajar bagaimana membuat sebuah event, pelajaran lain pun akan saya dapatkan seperti bagaimana menghadapi orang, bagaimana menghandle krisis, bagaimana bernegosiasi, hingga bagaimana menerima pendapat, kesalahan, hingga prestasi. Sebuah pembelajaran yang mungkin tidak saya dapatkan di kelas dan di tempat lain.

Jadi, mulailah saya dengan tugas baru itu. Memilih tim yang pas untuk poduksi kreatif acara ini ternyata susah susah gampang. Ada banyak hal yang perlu saya pertimbangkan. Ada banyak orang yang masuk kualifikasi dan banyak pula yang hanya sekadar mencari eksistensi. Memilih teman untuk bekerja dengan saya, yang akan membantu saya, memberikan input, hingga mengingatkan saya, itulah yang paling sulit. Ada beberapa yang memang saya sudah tahu bagaimana reputasi dia dan untuk itu saya minta secara pribadi untuk bergabung. Ada beberapa yang saya sudah dengar kemampuannya, namun secara personal saya tidak tahu. Ada yang secara personal sudah saya kenal, tapi tidak tahu bagaimana dia bekerja. Ada yang tidak saya kenal, baik secara personal dan profesional. Setelah serangkaian seleksi, tarik ulur dengan divisi lain, hingga perenungan saya sendiri, saya memilih 20 orang untuk mewujudkan acara ini.

Saya kemudian membagi 20 orang tersebut menjadi 4 tim sesuai dengan rangkaian acara tahun ini. Mungkin banyak teman-teman yang ingin sekali bekerja di konser. Trust me, it have all the strees that might make you wanna cry, beside the opportunity to work in a show business. Sayangnya, saya sudah memutuskan untuk membuat tim konser seminim mungkin dengan harapan maksi. Saya tidak memprioritaskan satu acara dengan acara lainnya, karena menurut saya, SYMPHONESIA adalah kesatuan. Semua acara punya tantangan tersendiri, spesialisasinya tersendiri. Dan inilah misi saya dari awal, bahwa SYMPHONESIA akan dikenang sebagai multievent tersebesar di Bandung, atau bahkan di Indonesia nantinya, bukan hanya pagelaran musik saja. Ya, memotivasi teman-teman yang tidak bekerja di konser juga merupakan fokus saya. Saya juga berusaha untuk memberikan perhatian lebih pada mata acara lain. Yang saya inginkan adalah dimanapun teman-teman ditempatkan, mereka akan memberikan yang terbaik untuk acara ini.

Setelah memiliki tim yang saya rasa cukup handal untuk mewujudkan apa yang kita semua inginkan, mulailah bulan-bulan penuh kerjaan. Sebagai salah satu divisi yang ada di bawah teknis, memang pada bulan-bulan awal belum terasa sibuknya. Yang kami lakukan hanya mendeskripsikan acara, melihat peluang pengisi acara, muali mengontak dan lain-lain. Namun mulai bulan Agustus lah kami ini menjadi manusia-manusia sibuk. Mulai dari mengontak artis untuk konser, memikirkan jalur karnaval, mengontak tenant makanan dan minuman, mengontak Deplu, bersiap dengan teman-teman ASEAN, dan lainnya. Puncaknnya tentu saja hitungan mundur acara di satu bulan terakhir. Saat ini lah saya diuji, mulai dari artis yang tidak jadi tampil, pihak Deplu yang sedang sibuk, beberapa perwakilan ASEAN yang tidak bisa hadir, sampai hal-hal lainnya yang membuat saya berpikir bahwa I'm not the right man in the right place. Tekanan sebagai koordinator mulai dirasakan. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah mengerjakan apa yang saya bisa saya berikan semaksimal mungkin dan diam.

Hari H pun tidak luput dari seribusatu detail yang tidak terpikirkan. Mulai dari tidak ada penyambutan di Gedung Sate, ada yang batal mengisi stand, hingga terlambat masuknya sound dan ligting dan kesalahpahaman di sound chechk. Duh duh duh, rasanya saya ingin langsung tanggal 10 November saja, ketika semua nya sudah selesai. Namun ini lah tantangannya, tantangan untuk semua panitia. Bagaimana dalam waktu yang singkat, dengan emosi yang sudah cukup sangat tinggi, harus tetap berpikir jernih dan juga menyelesaikan masalah yang ada.

Puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, karena selama dua hari tersebut kami diberikan limpahan anugerah dan kesabaran serta kekuatan yang melimpah. Tidak pernah saya pikirkan bahwa saya akan menjadi orang di garda depan untuk sesuatu sebesar ini. Kecemasan seratus persen saya mulai hilang berangsur-angsur ketika seminar ditutup oleh moderator. Ketika romobongan karnaval berangsur-angsur meninggalkan gedung sate. Ketika saya melihat stand-stand dari negara ASEAN mulai terisi. Hingga akhirnya benar-benar lega ketika Glenn Freddly turun panggung. Sebuah pengalaman yang sangat membanggakan, memberikan banyak pelajaran, dan menginspirasi.

Dan akhirnya, perasaan sedih pun menghampiri ketika saya melangkahkan kaki keluar Sasana Budaya Ganesha pada tanggal 9 November tengah malam. Saya akan berpisah dengan pengalaman yang luar biasa. Ibaratnya, saya dan teman-teman adalah orang tua dari SYMPHONESIA 2009 dan dia telah lahir, dan sekarang kami membiarkannya untuk tumbuh dan berkembang. Ya, malam itu perasaan saya campur aduk. Sedih, senang, bangga, haru. Tapi, apapun yang telah kami lakukan, kami anggap itu sebagai prestasi tersendiri.

Terimakashi untuk semua yang terlibat. Tanpa kalian, ini hanyalah mimpi orang-orang di tengah malam di kosan Widhi.

Sekali lagi, terima kasih.





David

GLOBAL FASHION INVASION

GLOBAL FASHION INVASION
The World Fashion Industry and How Globalization Take A Part of It

Oleh : Muhammad David (170210070005)


Pendahuluan

Globalisasi, seperti yang telah banyak diketahui masyarakat, adalah sebuah idiom yang digunakan untuk menjelaskan fenomena dunia tanpa batas, the world without borders. Disebut sebagai fenomena dunia tanpa batas karena dengan adanya globalisasi batas-batas geografis, atau bisa juga dimaknai sebagai negara, bukan lagi menjadi penghalang akan aktivitas-aktivitas perpindahan manusia, barang, jasa, informasi, modal, bahkan pengetahuan. Perpindahan-perpindahan tersebut telah didukung dengan kemajuan teknologi yang memudahkan teknis bergeraknya hal-hal tersebut dan adanya penyesuaian-penyesuaian peraturan yang dibuat oleh negara sehinggan perpindahan tersebut dapat dilakukan dengan sangat cepat dan dengan biaya yang sangat minim. Salah satu bukti nyata dari adanya fenomena globalisasi adalah adanya arus informasi dengan akses yang cepat dan biaya yang terjangkau. Dengan didukung oleh kemajuan teknlogi, seperti internet, maka komunikasi yang melewati batas-batas negara pun dapat dilakukan dengan sangat cepat. Tentu saja, implikasi yang didapatkan dari adanya komunikasi internasional dari internet sangatlah luas. Komunkasi yang terjalin bukan hanya komunikasi yang dimaknai sebagai pertukaran informasi antara dua individu atau kelopmpok melalui proses-proses pengiriman dan penerimaan berita saja. Komunikasi juga, baik disadari atau tidak, telah mendukung berkembangnya aktivitas-aktivitas perdagangan dunia. Ditemukannya metode jual beli dengan perantara internet, seperti penggunan situs sebagai tempat jal beli hingga penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran elektronik, telah mendorong adanya transaksi-transaksi perdagangan lintas negara, baik transaksi tersebut dalam bentuk retail atau transaksi ekspor impor. Selain sebagai media perdagangan, internet juga berperan dalam mengirimkan berita tentang apa saja yang sedang terjadi di negara lain hingga memuat apa saja yang sedang digandrungi oleh masayarakat di negara lain.

Salah satu contoh industri yang berkembang dengan adanya teknologi internet adalah industri fashion. Industri yang bisa dikelompokan ke dalam industri kreatif ini tentu saja menikmati adanya inyternet untuk mengembangkan industri tersebut. Setelah internet menjadi bagian dari kehidupan masayarakat dunia maka industri ini pun memanfaatkan kecanggihan internet dengan adanya situs-situs yang dapat digunakan sebagai sarana jual beli. Ketika dahulu seseorang harus datang ke department strore, butik, hingga flagship store untuk mendapatkan barang-barang yang dia inginkan, maka saat ini seseorang hanya membutuhkan koneksi internet, serta tentu saja kartu kredit sebagai alat pembayaran, untuk melakukan transasksi jual beli. Kegiatan inipun dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, tentu saja dengan keuntungan bahwa transakasi seperti ini sangatlah efektetif dan efisien. Tentu saja hal ini didukung oleh fakta bahwa semakin banyak orang yang terhubung dengan internet dalam kehidupan sehari-harinya. Tentu saja banyak penyesuaian yang dilakukan oleh pelaku industri untuk menggunakan fasilitas internet ini, seperti membuat sistem pengiriman yang cepat dan aman hingga memastikan bahwa transaksi kartu kredit di situs tersebut aman dari aktivitas-aktivitas hacker.

Selain untuk transaksi jual beli, industri fashion juga memanfaatkan tekonologi internet untuk memberikan referensi tentang perkembangan dunia mode. Dalam situs-situs perancang dunia, mereka menyertakan panduan gaya untuk musim kedepan, referensi pakaian, hingga katalog untuk koleksi-koleksi lama mereka. Ketika dulu seseorang harus terbang ke pusat-pusat mode dunia, seperti New York atau Paris, untuk bisa melihat koleksi terbaru atau yang akan datang dari sebuah rumah mode, maka saat ini hanya dengan mengakses internet, membuka situs, dan menikmati sajian paling hangat dari pusat-pusat mode dunia. Selain digunakan oleh perancang dan rumah mode, internet juga menjadi sarana bagi pendukung industri fashion lainnya. Salah satu contohnya adalah ¬blog, sebuah situs internet pribadi, yang dimiliki oleh kritikus hingga peminat fashion lainnya. Internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari industri fashion dunia.

Jika internet mampu meningkatkan volume perdagangan dari industri tersebut serta memberikan alternatif lain bagi para fashionista untuk mengikuti perkembangan industri fashion, lalu bagaimana dengan keadaan industri tersebut sebelum era kejayaan internet? Lalu apakah bergeraknya industri fashion hanya berpengaruh bagi perdagangan dan arus informasi semata? Bagaimana dengan budaya dan identitas masayarakat? Apakah industri fashion semakin jaya di era globalisasi ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sekiranya ingin penulis coba jawab dalam essay yang singkat ini.

Sejarah Singkat Industri Fashion Dunia

Pertama-tama, untuk memahami bagaimana industri ini tumbuh di masayarakat, marilah kita lihat sejarah singkat dari industri fashion dunia. Banyak orang yang berpikir bahwa industri ini berkembang sejak adanya Revolusi Industri di Inggris. Ada juga yang berpendapat bahwa industri ini baru ada setelah dunia menjadi seperti saat ini. Namun, jika kita teliti lebih dalam maka kita dapat memahami bahwa industri ini telah ada jauh sebelum rumah mode dunia melakukan ekspansi industrinya. Dalam sebuah artikel di majalah Vanity Fair, sebauh potret dari Marie Antoinette yang dilukis oleh Vigee-Leburn memperlihatkan beliau dengan sebuah gaun rancangan Rose Bertin. Potret tersebut diproduksi pada tahun 1783. Jauh sebelum itu, cikal bakal industri ini telah ada melalui adanya perdagangan kain dan pakaian jadi. Sebagai bahan pembuatan pakaian, kain menjadi salah satu komoditas perdagangan yang cukup menjanjikan. Sebagai salah satu aksi nyata dari perkembangan industri tersebut, maka Pemerintah Perancis membuat sebuah badan untuk mengurusi industri ini yaitu Chambre Syndicale de la Haute Couture Parisienne, yang berarti Serikat Dagang Adibusana Paris pada tahun 1868. Pada saat itu, yang tergabung dalam serikat dagang tersebut hanyalah perancang yang membuat rancangan adibusana atau haute couture. Haute couture adalah sebuah istilah yang digunakan bagi sebuah rancangan yang dikerjakan oleh tangan (hand made and hand-finished) yang disesuaikan dengan ukuran asli dari konsumennya. Penggunaan mesin jahit sangat tidak diperbolehkan dalam rancangan jenis ini.

Seiring dengan berkembangnya industri, di mana perancang dan rumah mode tidak hanya dimiliki oleh Perancis saja, maka pada tahun 1973 Pemerintah Perancis mengembangkang serikat dagang tersebut menjadi Fédération Française de la Couture, du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai French Federation of Fashion and of Ready-to-Wear of Couturiers and Fashion Designers. Meskipun federasi ini berada di Perancis serta berasa di bawah Departemen Perdagangan Perancis, namun pengaruh serikat dagang ini dapat dirasakan di seluruh dunia. Melalui badan inilah standarisasi industri fashion dibentuk. Menurut aturan yang ada, perancang adibusana adalah seseorang yang membuat rancangan yang dikerjakan oleh dengan tangan dalam sebuah tempat yang mempekerjakan setidaknya dua puluh orang di Paris, Perancis. Dalam satu tahun, seorang perancang adibusana setidaknya harus menampilkan dua puluh lima rancangan dalam dua kali peragaan pada bulan Januari dan Juli, dalam dunia fashion saat ini pagelaran tersbut sering dikenal dengan nama Fashion Week. Selain itu, dalam proses pengerjaannya, perancang tersebut harus menggukan ukuran asli konsumen, bukan standar ukuran baju pada umumnya, dan melakukan serangkaian fitting sebelum karyanya ditampilkan. Dari sekitar dua ratus orang anggotanya sebelum Perang Dunia II, saat ini hanya tinggal sebelas orang yang masih aktif menampilkan karyanya dan hanya dua orang berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi anggota serikat dagang tersebut, Maibocher (telah pesiun pada tahun 1971) dan Ralph Rucci. Setelah lima tahun dan sepuluh set koleksi, barulah seorang calon anggota mendapatkan keanggotaan penuh dan dapat menyandang predikat sebagai Haute Coutier.

Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa dalam sistem tersebut, seorang perancang hanya boleh memperlihatkan rancangannya di ‘rumah mode’nya sendiri dalam sebuah private function. Lalu, bagaimana mungkin seorang masayarakat biasa, dengan kemampuan finasial pada umumnya, dapat menikmati rancangan tersebut? Hal itu diatasi dengan oleh para pemilik pusat perbelanjaan besar seperti Harrods dan Neiman Marcus dengan cara membeli hak untuk mereproduksi rancangan menjadi koleksi ready-to-wear dan menjualnya dengan harga yang tentu saja di bawah standar rumah mode. Permasalahan pun tidak selesai sampai di sini. Perangcang tentu saja menginginkan bahwa dirinya dapat menjual rancangannya sendiri. Maka, terobosan pun diambil oleh Yves Saint Laurent, seorang perangcang asal Paris, Perancis yang saat ini namanya menjadi salah satu nama rumah mode besar dunia, pada tahun 1966 dengan membuat koleksi siap pakai pertamanya. Maka, pada tahun 1973 serikat dagang pun merestrukturisasi lembaganya menjadi Fédération Française de la Couture, du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode dan membaginya menjadi tiga badan khusus yaitu, Chambre Syndicale de la Haute Couture untuk perancang adibusana, Chambre Syndicale de la Mode Masculine untuk perancang pakaian siap pakai bagi pria, dan Chambre Syndicale du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode bagi perancang pakaian siap pakai bagi wanita. Dengan restukturisasi tersebut, maka seorang perancang dapat menyebut dirinya perancang mode meskipun dirinya tidak membuat koleksi adibusana. Hal ini tentu saja memperkuat industri fashion karena fashion saat ini dapat dimaknai sebagai hasil rancangan, bukan hanya rancangan adibusana, sehingga perancang dapat membuka gerai pakaian siap pakainya di seluruh dunia dan merubah gaya hidup masyarakat dunia.

Apa Sebenarnya Fashion Itu ?

Meskipun telah banyak masyarakat yang menggunakan idiom fashion dalam kehidupan sehari-hari, namun banyak juga yang masih belum mengetahui apa fashion itu sebenarnya. Apakah hal tersebut termasuk seni atau merupakan bagian dari kebudayaan masayarakat? Hal ini sebenarnya telah banyak diperdebatkan, baik oleh para penggiat industri, penikmat fashion hingga masyarakat biasa. Tentu saja tidak ada yang salah dari pendapat-pendapat tersebut. Sekarang, mari kita menganalisis apa fashion itu sebenarnya.

Pertama-tama, fashion sebagai seni. Seni sendiri dapat diartikan sebagai hasil dari hasil atau proses cipta manusia yang memiliki nilai estetika yang tinggi dan menggandung unsure emosional dari yang membuatnya. Dalam proses berkeseniannya, seorang seniman dapat menggunakan media apapun untuk mengekspresikan dirinya. Lukisan, patung, musik, dan tari serta sastra adalah media yang sering digunakan oleh para seniman tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, serta diiringi dengan penemuan-penemuan media-media lainnya melalui teknologi, media seni pun berkembang. Film hingga seni dengan menggunakan media campuran telah menjadi bagian dari seni masa kini. Fashion sebenarnya didasarkan pada seni gambar. Sketsa rancangan yang digambarkan di atas kertas kemudian di wujudkan dalam bentuk aslinya. Pada mulanya, para perancang busana berkarya untuk para keluarga kerajaan serta untuk pementasan teater. Oleh karena itu, jika kita lihat rancangan mulai zaman Marie Antoinette yang kita lihat adalah rancangan dengan detail rumit dan tidak mungkin dibayangkan untuk digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Seiring berevolusinya fashion menjadi sebuah industri, saat ini bentuk seni rancang dapat dilihat dalam karya adibusana. Rancangan adibusana, meskipun juga dikomersilkan, namun tetap dianggap sebagai sebuah bentuk karya seni. Dalam rancangan jenis tersebut, idealisme perancang dapat terlihat jelas dan setiap perancang mempunyai ciri khasnya masing-masing. Contohnya, Jean Paul Gaultier yang selalu tampil dengan kesan feminine dan berani atau Givenchy yang tampil dengan gaya elegan.

Kedua, fashion ebagai bagian dari kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan hasil pemikiran manusia yang telah dirangkum dalam waktu yang panjang. Budaya berakar dari kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Salah satunya adalah pakaian sebagai perlindungan tubuh dari cuaca. Pakaian, dalam beberapa kebudayaan, juga berfungsi sebagai simbol kesopanan hingga simbol status bagi seseorang. Sebagai pertahanan terhadap cuaca, masyarakat di penjuru dunia memiliki tradisi tersendiri yang diseuaikan dengan keadaan iklim di mana masyarakat tersebut tinggal. Bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan empat musim sepanjang tahunnya, maka paling tidak masyarakat membutuhkan dua jenis pakaian, pakaian untuk musim panas/semi dan pakaian untuk musim dingin/gugur. Bagi masyarakat yang tinggal di dareh tropis maka pakaian yang dibuthkan adalah pakaian yang tidak terlalu tebal karena matahari bersinar sepanjang tahun dan beberapa jenis pakaian tambahan yang dibutuhkan selama hujan tiba. Pada zaman dahulu, pakaian dibuat sendiri oleh pemakainya, namun seiring berubahnya zaman, masyarakat pun memilih untuk membeli pakaian yang sudah jadi. Pakaian juga dapat menjadi simbol status dari seseorang. Dalam kebudayaan Jawa misalnya, terdapat beberapa jenis motif batik yang memang dikhusukan untuk keluarga Keraton. Rakyat biasa tidak diperbolehkan untuk memakainya. Keadaan-keadaan tersebutlah yang akhirnya menjadi permintaan bagi industri fashion. Pakaian siap pakai menjadi salah satu produk industri yang sangat menjanjikan. Meskipun tidak semua masyarakat akan mengganti seluruh wardrobe nya dalam kurun waktu tertentu, namun dengan status pakaian sebagai salah satu kebutuhan pokok masayarakat, pemintaan pasar akan tetap ada.

Ketika fashion diartikan sebagai rancangan haute couture, maka sebenarnya kita sedang membicarakan fashion sebagai sebuah seni. Namun, ketika fashion diartikan sebagai rancangan siap pakai, maka kita sedang berbicara fashion sebagai sebuah budaya masyarakat. Tentu saja, fashion merupakan salah satu bentuk dari industri kreatif, di mana industri tersebut sangat bergantung dengan kreatifitas para seniman. Pada akhirnya, industri fashion saat ini telah menjadi salah satu industri yang telah mendunia.

World Fashion Industry

Seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya bahwa fashion telah menjadi sebuah industri dan tentu saja industri tersebut sangat menjanjikan. Masyarakat saat ini telah menjadi masyarakat yang sangat konsumtif terhadap produk-produk fashion, baik pakaian maupun aksesorisnya. Beberapa produk fashion pun telah menjadi barang mewah dan hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja, mengingat harganya yang sangat tinggi. Industri ini tentu saja dimotori oleh banyak munculnya rumah mode dunia, baik yang hanya membawahi satu merek dagang tertentu, membawahi beberapa merek dagang hasil karya satu perancag, hingga sindikasi dagang yang membawahi banyak merek dagang dan menjdai raksasa fashion dunia. Beberapa rumah mode pun telah tercata di bursa saham dunia, contohnya New York Stock Exchange, dan mempunyai nilai saham yang terbilang tinggi. Tentu saja, dengan berubahnya makna fashion, yang bukan hanya menjadi seni atau kebutuhan, tetapi juga menjadi industri, menjadikan fashion juga bergantung pada keadaan ekonomi yang sedang dihadapi masayarakat. Krisis moneter atau adanya bencana atau perang menjadi salah satu faktor naik turunnya nilai penjualan tahunan industri ini. Dalam artikelnya di majalah Vanity Fair edisi September 2009, Amy Fine Collins mengutip dari artikel The New York Times pada tahun 1965 bahwa setiap 10 tahun sekali tanda-tanda kematian industri ini datang. Hal ini jelas menunjukan bagaimana industri ini mengalami pasang surut dan dimungkinkan untuk hancur. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa industri ini masih dapat bertahan hingga saat ini.

Pada awal mula industri ini berkembang di Paris, mungkin tidak pernah terbayangkan bahwa fashion akan menjadi salah satu industri yang mendunia. Seiring dengan berjalannya waktu, industri ini telah hadir di hampir seluruh pelosok dunia. Dari pusatnya di benua Eropa hingga Asia. Dari Amerika melintasi Afrika hingga kawasan Timur Tengah. Industri fashion telah menjadi salah satu industri kreatif yang maju sejalan dengan inustri film dan industri music. Lalu bagaimana mungkin industri ini mendunia? Jawabannya adalah melalui sistem perdagangan dunia. Pada bagian pendahuluan, penulis telah menjelaskan bagaimana industri-industri sangat terbantu dengan adanya penemuan teknologi di bidang informasi dan telekomunikasi serta di bidang transportasi. Melalui teknologi transportasi, produk-produk fashion dikirim ke berbagai belahan dunia. Mungkin kita masih ingat bagaimana dahulu kala para pedagang datang menggunakan kapal dan melakukan transaksi jual beli di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya. Jalur Sutera juga dilatarbelakangi oleh pencarian akan sutera sebagai bahan untuk membuat pakaian. Itulah cikal bakal perdagangan produk fashion. Saat ini, pengiriman masih dilakukan dengan kapal, juga dengan pesawat terbang, namun dengan teknologi dan kuantitas yang lebih besar dan lebih canggih. Sebuah karya Chanel dapat dikirim ke Indonesia melalui proses shipping. Kedua adalah adanya penemuan di bidang teknologi komunikasi. Mungkin kita harus berterima kasih pada jaringan global, internet. Melalu internet, rumah mode dunia dapat mempromisikan koleksi terbaru mereka serta melakukan transaksi penjualan via internet.

Lalu, apakah industri fashion berdiri sendiri? Tentu saja tidak. Banyak industri-industri lain yang mendukung keberlangsungannya industri ini. Beberapa diantaranya adalah indusrti telekomunikasi, industri perhubungan, media, serta industri retail. Industri telekomunikasi berperan dalam hal menyebarluaskan adanya industri ini serta menjadi perantara antara konsumen dan produsen. Industri perhubungan dibutuhkan sehubungan bahwa produksi fashion masih berpusat di beberapa kota di dunia. Kedua industri tersebut, industri telekomunikasi dan perhubungan, telah dijelaskan sebelumnya. Dua industri lainnya yang mendukung industri ini adalah industri media dan retail. Seperti kita telah sama-sama ketahui, media mempunyai pengaruh kuat bagi masyarakat. Media membentuk opini publik serta membawa perubahan bagi masayarakat. Industri media saat ini sangat fokus pada industri fashion. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa majalah yang memang ditujukan untuk membahas tentang bentuk seni yang satu ini. Elle, Vouge, Harper’s Bazzar, Vanity Fair, L’uomo Vouge, QC, dan Folio adalah sedikit dari banyak majalah jenis tersebut. Kebanyakan majalah tersebut berasal dari Amerika Serikat atau Eropa. Namun, majalah tersebut juga hadir dalam versi lokal, di mana konten utamanya sama dengan versi internasionalnya dan disisipi konten lokal. Terkadang, jika sebuat item fashion ditampilkan di majalah, maka dapat dipastikan bahwa item tersebut akan menjadi tren. Selain media, inndustri ritel juga mendukung bergeraknya industri fashion . Ritel adalah sebuah perusahaan dagang yang melayani pembelian eceran. Mungkin sebuah rumah mode menganggap bahwa pemukaan sebuat flagship store atau independent store di sebuah wilayah tidak akan memberikan keuntungan atau bahkan akan merugi, namum rumah mode terebut juga dihadapkan bahwa ada pasar konsumen potensial di sana, maka retail adalah solusinya. Retail hadir dalam bentuk pusat perbelanjaan, di mana kita dapat menemukan banyak merek dagang hanya dengan mengunjungi satu tempat saja. Di Indonesia, retail hadir dengan nama Metro atau Debehams.

Globalisasi dan Fashion

Di mana sebenarnya letak irisan antara globalisasi dan fashion? Mungkin masyarakat masih mengasosiasikan globalisasi dengan isu-isu high politics. Mungkin juga masyarakat masih mengasosiasikan globalisasi dengan isu-isu low politics. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat bahwa globalisasi dan fashion berhubungan. Hubungan fashion dan globalisasi dibangun ketika kita berbicara bahwa dengan adanya globalisasi, fashion menjadi sesuatu yang global. Hal ini tentu saja mempengaruhi beberapa hal. Pertama adalah budaya berpakaian masyarakat. Pernahkah anda bayangkan jika Coco Chanel tidak merancang blazer dengan celana panjang bagi wanita maka kita tidak pernah bisa melihat Hillary Clinton, Secretary of State Amerika Serikat, menggunakannya dan menjadi cirri khasnya. Pernahkah anda banyangkan jika Audrey Hepburn tidak menggunakan blus hitam tidak berlengan rancangan Givenchy dalam Breakfast at Tiffany’s mungkin blus hitam hanya akan digunakan di pemakaman. Atau jika Burberry tidak mendesain mantel panjang dengan berbagai model. Hal itulah yang mrubah cara seseorang berpakaian. Fashion memberikan alternatif lain pada budaya yang sudah ada serta memberikan identitas baru pada seseorang. Tentu saja hal ini dapat terjadi karena adanya arus informasi yang sangat cepat yang merupakan salah satu bagian dari proses gloalisasi. Hubungan kedua dapat kita lihat dari sisi perdagangan. Dengan adanya globalisasi yang memudahkan mobilisasi arus barang. Mungkin kita tidak dapat melihat butik Louis Vuitton di Plaza Indonesia jika tidak ditemukan moda transportasi yang dapat membawa produk tersebut dari Paris. Dua hal tersebut jelas menjelaskan bagaimana fashion sangat erat kaitannya dengan globalisasi dab globalisasi menjadikan industri tersebut dalam posisinya saat ini.

Global Fashion Invasion : Penutup

Ya, disadari atau tidak, menerima atau tidak, serangan fashion global telah menjadi bagian dari keseharian kita. Prada, Armani, Versace, Dior, Hugo Boss, Jimmy Choo, Sak’s, Neiman Marcus, Debenhams, Tifanny’s, Louis Vuitton bahkan Nike dan Puma bukanlah hal yang asing bagi kita. Bagaimana kita menyikapinya, apakah kita akan terseret dalam arus utama fashion dunia atau hanya menjadi penonton masyarakat yang menggunakannya, akan kembali pada diri kita masing-masing. Silakan anda menyikapinya dan jadilah bijak dengan pilihan anda.


Referensi

Collins, Amy Fine. 2009. Toujuors Couture. Dalam Vanity Fair edisi September 2009. New York : Conde Nast Publications


P.S. Ini tugas akhir saya untuk mata kuliah Globalisasi : Isu dan Kontroversi. Rada sedikit beda emang dibanding dengan bahasa lainnya. Oh ya, silahkan memberikan pendapat ya.

Sunday, October 04, 2009

Kabar-kabar Semester 5

Ya, sekarang saya sudah semester 5, yang artinya sudah 2 tahun lebih saya menuntut ilmu di bangku kuliahan. Selama itu juga saya jauh dai keluarga, berjuang untuk hidup mandiri sebagai anak kosan, dan tentu saja belajar. Meskipun yang terakhir, sangat jarang dilakukan.

Jadi apa kabarnya semester ini?

Sepi.

Sepi karena semester ini saya hanya mengambil 11 SKS. Okey sekali lagi, 11 SKS. Saya yang biasanya mengambil 20-21 SKS tentu saja merasa sepi banget kuliahnya. Meskipun beberapa mata kuliahnya diprediksikan akan menyiksa lahir batin, fisik dan pikiran.

Semester ini saya akan berjuang untuk :

  • Analisis Kebijakan Luar Negeri (2 SKS)
  • Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (3 SKS)
  • Kejahatan Transnasional (2 SKS)
  • Globalisasi : Isu dan Kontroversi (2 SKS)
  • Gender dan Seksualitas dalam Politik Dunia (2 SKS)
Alasan mengapa saya HANYA mengambil 11 SKS adalah karena sudah banyak mata kuliah yang saya ambil di semester-semester berikutnya, sedangkan untuk mengambil ke atas, mata kuliah semester 7, banyak yang merupakan mata kuliah dengan prasyarat atau mata kulaih lanjutan. Jadi ya itu dia yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Meskipun, saya beruntung juga cuma ambil 11 SKS. Karena saya sedang bekerja dalam sebuah proyek super-mega-dahsyat-bombastis, SYMPHONESIA. Dan ga tanggung-tanggung saya adalah Program Directornya. Sehigga, sering saya dan Anggi, teman saya yang juga bekerja di SYMPHONESIA, bercanda bahwa 10 SKS lainnya adalah SYMPHONESIA.

Dengan itu, saya hanya akan ke kampus untuk kuliah pada hari Senin, Selasa, dan Kamis. Sisanya akan saya baktikan untuk SYMPHONESIA.




David



PS. Silakan kunjungi web SYMPHONESIA di www.symphonesia.com. SYMPHONESIA, Bandung's Greatest Event.

Thursday, June 18, 2009

Kabar Kabur Semester Empat

Sudah lama saya gak curhat masalah kehidupan akademik saya di kampus. Terakhir curhat mungkin pada saat saya nulis tentang MNC kali ya. Nah, sekarang ini semseter genap telah berakhir. Yeay, yang artinya udah empat semester saya habiskan di Jurusan Hubungan Internasional, UNPAD. Tambah satu semester alih tahun juga sih.

Ujian telah berakhir. Ga ada lagi deadline-deadline tugas. Ga lagi tidur tengah malam, bahkan menjelang pahi, dan pernah ga tidur sama sekali, buat ngerjain tugas. Ga ada lagi bangun pagi buat ngejar kelas pagi. Ya, yang sekarang saya tunggu adalah nilai-nilai dari sebelas mata kuliah yang saya ambil serta kapankah pendaftaran semester alih tahun. SAT saya gunakan buat ngambil mata kuliah ke atas ya, bukan untuk ngulang. Alhamdullilah, sampai hari ini di transkrip nilai saya hanya ada satu nilai C untuk mata kuliah Filsafat Ilmu, yang males banget diulang.

Oke, sekarang kita review aja tuk mata kuliah yang saya ambil di semester ini. Ujiannya, tugasnya, dosennya, sampe prediksi awal nilai saya.

PENGANTAR HUBUNGAN INTERNASIONAL II

Well, mahamatakuliah yang satu ini adalah rangakaian terakhir dari trilogi PIP-PHI1-PHI2 yang diampu oleh Pak Arbay. Mata kuliah ini berfokus pada isu internasional yang dikaji oleh Hubungan Internasional. Kelasnya sangat penuh, mengingat seharusnya ini mata kuliah ada di semester tiga, tapi ternyata, dengan adanya perubahan kurikulum JHI, jadilah dia di semester dua, yang artinya saya sendiri terlambat mengambil beserta 110an lebih angkatan 2007. Bayangkan 110 anak 2007 tambah 200an anak 2008 tambah yang ngulang samadengan penuhnya B.30X. Well, saya sendiri jarang masuk kuliah setelah beberapa perkuliahan. Mata kuliah, yang sesuai tradisinya, mengenal tutorial, ternyata ga ada dong semester ini. Jadilah ujian akhirnya yang lisan menjadi satu-satunya ujian terberat yang tanpa beban, nothing to lose... Dan sayapun gagal ujian akhir. Prediksi nilai C, maksimal B kalau TA saya bagus dan nilai UTS bagus....

DEMOKRASI DAN HAM

Mata kuliah yang sebelumnya ada di semester tujuh ini ternyata bergeser ke semester dua. Walhasil menghasilkan banjir mahasiswa yang lebih parah dari PHI2, karena angkatan 2005 dan 2006 banyak yang belum ngambil. Dosennya Kang Satriya. Materinya lumayan lah ya. Prediksi A, kalo apes B.

ORGANISASI INTERNASIONAL II

Dibandingkan dengan mata kuliah pendahulunya, OI1, beban kuliah OI2 semakin berat kawan-kawan. Dengan adanya tutorial yang minimal sepuluh kali, kelas debat, tugas resume setiap minggu, dan lain-lainnya, memang kelihatannya berat banget. Tapi, mata kuliah ini lah yang paling ok untuk semester empat ini. Tim pengajarnya Teh Sendy, Teh Nur, Teh Deasy, dan tutor saya, Teh Windu. Tapi beneran deh, kerasa beda banget kuliah OI2 sama kuliah mata kuliah lainnya. Terbukti bahwa tulisan saya paling bener di UAS OI2, jawaban saya paling rasional di sini, dan kertas ujiannya pas terisi. Prediksi A, ayolah, OI1 saya udah A nih... Hehe...

HUKUM INTERNAIONAL II

Mata kuliahnya Pak Hasdik ini menjadikan anak HI akan bergelar S.IPHOA. Sarjana Ilmu Politik, Hukum, Oceanografi, dan Aeronautica. Ya, kali ini kerjaan kita adalah memandangi Hukum Laut, Hukum Udara, dan Hukum Luar Angkasa. Setiap Minggu. Dengan UTS dan UAS dadakan. Juga dua makalah. Serta tugas-tugas kecil sebanyak 2-5 halaman. Yang ini udah ga diprediksi karena udah keluar, nilai saya B. Makasih banyak, Pak. Ga tau deh kalo harus ngulang lagi mata kuliah ini.

BAHASA PERANCIS II

Sempet ganti dosen dari Madame Savitri ke Madame Meumeut, karena Teh Vit nya ke Malaysia, dan ke Madame Savitri lagi. UTS saya ngulang. UAS udah pasti salah sepuluh soal. Hopeless. Alhamdulillah dapet A. Merci, madame. J'aime Francais.

EKONOMI POLITIK GLOBAL II

GeJe. Untung dapet B.

HUBUNGAN INTERNASIONAL DI AMERIKA

Kelasnya Pak Asgar, yang di bantu Pak Gilang. Seru. Deg-degan. UTS ga ikut karena telat masuk kelas, dapet tugas pengganti. Dapet A dong. Makasih Pak Asgar dan Pak Gilang.

HUBUNGAN INTERNASIONAL KAWASAN

Pak Reza nih dosennya, sayangnya saya jarang masuk. Heheheheh. Karena udah ngambil Regionalisme, jadinya rada bingung sama bahasan ini. Prediksi B, atau kalo Pak Reza baik A. Haha...

RESOLUSI KONFLIK

GeJe. Tugasnya lumayan lah ya. Kalo kuliah penuh banget. Untung dapet B.

GLOBAL GOVERNANCE

Teh Sendy yang ngajar. Materinya ngawang deh. Mata kuliah baru sih ya. Presentasi gue okey banget deh. Prediksi A, ayolah teh masa dapet B.

PERUSAHAAN MULTINASIONAL DALAM POLITIK DUNIA

Mata kuliah baru yang diampu Pak Widya sama Teh Viani. Seru. Tugasnya seru. Presentasinya seru. Prediksi A. Hehehehe..... Oh ya, saya pernah curhat mata kuliah ini kan di blog.


Nah, dengan prediksi di atas, ga tau deh IPK saya akan jadi berapa. Males ngitung dulu. Hehehhe...

Oh ya, buat SAT, rencananya saya mau ngambil HI AFRIKA, HI TIMTENG, BISIN, sama TRANS-CRIME, atau tambah KOMEDGLOB kali ya....

Sekian deh,


David



Wednesday, February 18, 2009

Multinational Coorporations dan Budaya, catatan setelah kuliah...

Gini nih jadinya kalau ternyata ngambil mata kuliah yang pas, dengan tim dosen yang yahud pula. Apa yang kita bicarakan di kelas merupakan suatu yang worth it untuk disimak dan juga diceritakan. Dan jujur, jarang banget saya ketemu kombinasi mata kuliah yang seperti ini. Makannya, saya sangat bersemangat untuk masuk kelas ini, meskipun baru mulai jam 1 siang, setalah dua mata kuliah yang sangat berat.

Namanya PERUSAHAAN MULTINASIONAL DALAM POLITIK DUNIA. Nama bekennya, MNC. Merupakan salah satu mata kuliah pilihan untuk semester 4, selain Migrasi Internasional dan Hukum Perdata Internasional. Mengapa saya pilih mata kuliah ini daripada yang lainnya adalah karena menurut saya bahasan MNC ga akan ada habisnya. Mau dibahas dalam perspektif manapun, MNC tetaplah menarik. Apalagi sekarang ini, MNC ada di mana-mana, dan merupakan salah satu penyedia lapangan pekerjaan yang memungkinkan untuk dimasuki oleh lulusan jurusan HI.

Selain itu, mata kuliah ini adalah mata kuliah baru. Belum pernah ada sebelumnya di HI UNPAD. Juga menurut dosen pembimbingnya, mata kuliah ini jarang diajarkan di jurusan yang sama di universitas lain. Mungkin hanya sedikit yang membahas MNC menjadi salah satu mata kuliah. Salah satu universitas yang mempunyai MNC sebagai mata kuliah adalah University of South California, dengan Multinational Enterprises in Global Politics.

Mengenai dosennya, saya baru kenal Bu Viani, atau yang lebih sering dipanggil Teh Viani. Beliau adalah dosen mata kuliah Pengantar Ekonomi di semester 1. Dan saya akui, Teh Viani adalah satu dari sekian dosen HI UNPAD yang bisa diandalkan. Untuk dosen utamanya, Pa Widya, saya belum pernah ketemu, kecuali di account Facebooknya.

Cukup untuk pengantarnya, langsung pada apa yang saya ingin sampaikan di sini.

Judul di atas merupakan hasil dari pertanyaan saya di kelas siang ini. Perkuliahan hari ini sebenarnya membahas apa itu MNC dan bagaimana perkembangannya secara umum. Dan seperti biasanya, setiap hampir akhir perkuliahan, sang dosen akan memberikan waktu untuk pertanyaan, yang sayangnya terkadang mahasiswa memilih untuk diam karena injury time. Termasuk saya juga sih, dengan alasan yang berbeda tentu saja, karena memang kalau ga ada yang perlu ditanyakan, saya memilih untuk diam.

Tapi tidak untuk kali ini, karena ada sesuatu di pikiran saya, dan juga belum injury time...

Jadi saya pun bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi, MNC membuat gaya hidup baru di masayarakat, atau justru gaya hiduplah yang memberikan kesempatan kepada MNC untuk berkembang?" Wew, saya terkagum sendiri lho dengan pertanyaan ini, karena biasanya saya malas bertanya, kecuali di tutorial, apalagi kalo bertanya sampe tataran filosofisnya. Saya, yang orangnya simple, lebih memilih untuk diam dan mencatat.

Nah, ternyata pertanyaan saya ini cukup membuat kelas menjadi dinamis, dalam artian banyak yang mengemukakan pendapat, dengan parameter biasanya kelas saya cenderug statis, maka ini adalah sebuah kemajuan. Ada yang berpendapat bahwa MNC akan membuat budaya baru. Yang dimaksud di sini adalah bahwa dengan adanya produk yang ditawarkan MNC, masyarakat akan meliahtnya sebagai sesuatu yang baru, sehingga sebuah kebiasaan/ life styles/budaya baru akan terbentuk. Antitesis nya adalah bahwa jika produk tersebut tidak ada, maka tidak akan terjadi perubahan dalam masyarakat. Entah perubahan itu negatif datau postif, itu adalah ekses dari sebuah perubahan, dan ini tergantung dari bagian mana kita memandangnya dan menjalaninya. Pendapat kedua, yang bisa dibilang berseberangan dengan pendapat yang pertaman, adalah bahwa MNC melihat budaya tersebut sudah ada di masayarakat, sehingga investasi atau pengenalan produk baru sangat dimungkinkan. Mungkin logika berpikir di pendapat ini adalah bahwa ketika MNC akan berinvestasi, budaya tersebut sudah ada, sehingga akan mudah bagi perusahaan tersebut untuk memasarkan produknya. MNC tidak akan mengambil resiko besar dengan tidak mempertimbangkan karakteristik masayarakatnya ketika akan berinvestasi, atau dengan bahasa lain tidak mempertimbangkan faktor internal dari masyarakatnya.

Lalu, mana yang benar? Atau menurut Pa Widya, pertanyaan ini adalah mana yang lebih dulu, ayam atau telurnya?

Mari beranalisis....

Pertama, pendapat bahwa budaya diciptakan oleh MNC. Ketika sebuah MNC masuk ke suatu negara, dan banyaknya melalu waralaba, MNC tersebut bukan hanya membawa produk baru atau sistem manajemen baru pada masayarakatnya. MNC ini juga membawa budaya, the values of culture. Sebagai contohnya adalah Strabucks. Gerai kopi yang berasal dari Amerika Serikat ini membawa budaya minum kopi. Bahwa sebenarnya kopi dapat dikonsumsi siapa saja. Ketika selama ini kopi diidentikan dengan orang dewasa, pegawai kantoran, hingga masayarakat kelas bawah, Starbucks membuat kopi menjadi gaya hidup. Lihat saja gerainya yang memang dapat ditemui di pusat perbelanjaan atau jalan protokoler. Tentu saja target pasar Strabucks adalah mereka yang memang biasa hang out di mall, lebih spesifik lagi anak muda. Lihat saka bahwa saat ini mayoritas anak muda, yang memang mempunyai uang saku lebih, akan lebih memilih untuk ngopi di Starbucks, tentu saja tidak semua berpikiran seperti itu. Lalu apa yang dijual Starbucks sebenarnya? Kopi? Atau gaya hidup? Saya lebih berpikiran pada opsi yang kedua, bahwa ketika anda membeli satu cup Vanilla Latte, yang anda ingin dapatkan bukan hanya Vanilla Latte saja, tapi juga atmosfer minum kopinya. Itulah yang sebenarnya dijual. Satu kali, saya pernah menyambangi gerai Starbucks di Cihampelas City Walk dan memang yang saya liaht adalah sekumpulan anak muda yang memang mencari atmosfer minum kopi. Orang yang memang addict caffein mungkin akan lebih memilih gerai kopi lain yang lebih dapat dijangkau kantong, namun lebih enak dari Starbucks.

Kedua, budaya yang telah ada memungkinkan MNC berinvestasi. Untuk ini, Starbucks lagi-lagi bisa menjadi contoh. Sempatkah terlintas di pikiran anda bahwa Indonesia mempunyai budaya nongkrong? Berapa banyak kedai kopi yang ada di sepanjang jalanan? Siapa yang menjadi konsumennya? Ya, lagi-lagi ini menjadi jawaban bahwa adanya Starbucks mengakomodir kalangan kelas atas untuk mempunyai tempat minum kopi yang nyaman. Target konsumennya jelas, eksekutif muda yang menyukai kopi dan butuh asupan caffein secara instan serta anak muda yang lebih suka pusat perbelanjaan daripada pasar tradisional. Inilah celah yang menjadi lahan MNC. Belum terjamah namun prospeknya menjanjikan.

Akhirnya, seperti yang Pa Widya kemukakan, pertanyaan ini harus dilihat dari dua sisi.

Sekian,

David.

PS. Posting ini mulai saya ketik ketika pertemuan pertama mata kuliah ini dan saya selesaikan setelah UAS. Hahaha.. Ternyata, saya sibuk juga...

PPS. Jujur, saya lebih memilih untuk menyeduh kopi instan di kamar kosan meskipun rasanya tidak seenak Starbucks. Tapi, bukankah cukup gila untuk membayar hampir Rp. 40.000 untuk satu cup Medium Ice Vanilla Latte with Light Sugar... ;P


Friday, January 02, 2009

SYMPHONESIA.... Catatan yang ingin tercatatkan..

Sebenernya udah lama banget pengen nulis tentang SYMPHONESIA. Sayangnya baru sekarang ya bisa tersalurkan. Temen-temen lainnya udah bayak banget yang nulis tentang ini, rata-rata sih di Facebook dan ngetag temen lainnya. Sayangnya saya bukan tipe orang yang suka untunk nulis note di FB, saya lebih suka nulis di blog. Dan karena segera setelah SYMPHONESIA saya pergi ke Pekanbaru, dan diikuti kegilaan lainnya, baru sekarang ini bisa nulis. Meskipun ya, keliahatannya euphorianya udah selesai, ga ada salahnya toh, kalo ini diceritakan juga. Meskipun menulis ini ditengah-tengah deadline tugas, well, ini saran relaksasi juga kan...

Nah, apa sih SYMPHONESIA??? Bagi kamu mahasiswa UNPAD jurusan HI, keterlaluan kalo ga tau. Bagi kamu mahasiswa UNPAD Jatinangor, pernah liat baligho segede gaban di bunderan boulevard, pernah liat orang tereak "Symphonesia..." di gerbang lama, atau malah pernah ditawarin tiketnya.. Bagi anak-anak UNPAD Dipatiukur, baligho depan kampus DU udah cukup besar ya... Bagi anak ITB, konon katanya, spanduknya ada di Ganesha, dan tentu saja balighonya di depan jalan ke SABUGA... Bagi masayarakat Bandung, yang juga mendengarkan Radio Ardan, pasti pernah denger iklannya. Bagi yang ga tahu, makannya saya sekarang nulis. Hehe..

SYMPHONESIA, atau seperti disingkat panitia lain sebagai Sympho, merupakan sebuah proyek besar Himpunan Mahasiswa HI periode 2007-2008. Awalnya sih ini dicetuskan sebagai sebuah IR EXPO, yang ingin mengumpulkan semua elemen HI UNPAD dalam sebuah perhelatan akbar. Nah, di Rapat Kerja HIMA tercetuslah ide ini, meskipun pada saat itu belum menjadi sebuah konsep matang, tapi hanya sebuah blueprint. Untungnya Departemen Seni Budaya, yang saat itu masih di bawah Teh Niken, punya program Gelar Budaya Nusantara. Akhirnya, program kerja itulah yang menjadi landasan utama IR Expo, saat itu belum menjadi Sympho. Dengan catatan : semua departemen di bawah HIMA memberikan sumbangsihnya, dalam kepanitiaan, dan juga acara. Jadilah semua departemen, yang memungkinkan untuk memasukan acaranya ke dalam Sympho, mendelegasikan acara nya, yang notabene program unggulan ke dalam struktur Sympho.

Pada saat itu, saya masih berada di bawah Departemen Kajian. Kajian biasanya identik dengan seminar, diskusi, dll. Makanya, untuk Sympho kajian memasukan Seminar sebagai salah satu mata acara Sympho. Meski akhirnya, format seminar itu berubah menjadi talkshow. Temanya sih masih sama dengan tema utama dari Sympho, yaitu kebudayaan. Nah, saat memilih siapa yang akan menjadi Penanggung Jawab acaranya, yang available saat itu adalah Dennis. Maka jadilah ibu yang satu itu menjadi perwakilan Kajian di kepanitiaan inti Sympho. Nah, saya di mana ya???

Saya sendiri bergabung di bawah Divisi Acara, tepatnya di bawah Konser. Penanggung jawabnya sendiri adalah Okky, yang sekarang jadi Ketua HIMA. Sebenernya saya kurang deket sama Okky sebelumnya. Hanya tau kalo dia adalah ketua Makrab 2006. Nah, kenapa saya masuk kesana ? Jawabannya, pertama karena saya memang milih untuk masuk ke konser. Dengan bayangan konser besar, saya jadi antusias untuk masuk ke divisi ini. Kedua, karena saya pernah jadi Show Director untuk HI-Lite. Ketiga, karena mungkin cuma di sini saya bisa kerja. Hehehe.

Nah, di konser, kita sebenernya bertugas untuk membuat sebuah pagelaran seni sebagai puncak dari acara Sympho sendiri. Apa sih yang menjadi menarik bagi sebuah pagelaran? Pastinya, bintang tamu. Mulailah kita menyusun list artis, mulai dari yang indie sampe label gede. Mulai dari yang pop sampe rock. Mulai dari jazz sampe dance. Setelah disusun, serta mempertimbangkan budget yang ada, mulailah mengontact para manager untuk ngecek jadwal si artis dll. Saya, ternyata, kebagian untuk RAN sama Maliq & d'essentials. Untuk RAN ternyata ga available. Untuknya Maliq bisa. Jadilah Maliq menjadi headliner konser kebudayaan Sympho dengan artis lain seperti SORE, MOCCA, Closehead, DEP, dll. Lalu dimana letak kebudayaannya? Kita juga menghadirkan penampilan kebudayaan dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Saman, Saung Angklung Udjo, dll.

Ternyata kerja saya cukup edan saat itu. Menjadi penghubung untuk Maliq, termasuk nego fee dan riders, memberikan saya pelajaran bahwa kerja di dunia entertainment bukanlah sebuah kerjaan yang mudah. Untuk menampilkan sebuah tontonan yang kelas satu, sebuah band pasti berurusan dengan sound, lighting, akomodasi, logistik, transportasi, dll. Jadilah saya tahu mengapa fee yang dibayarkan menjadi sangat worth it. The price tell us the performance. Dan itu yang terjadi dengan Maliq. Bisa dikatakan. Maliq lah bintangnya malem itu. Dan untuk mendatangkan Maliq, serta menampilkan yang terbaik, persiapan bukan hanya dalam satu dua hari. Jadi inget saya, malem-malem sama Aji dan Indra, anak logistik yang in charge buat sound dan lighting, ke tempat orang soundnya, dan saya tau betapa ribentnya nyiapain semua audio itu. Hehehe.. Belum lagi, harus selalu keep contact sama Dita, koordinator Akomodasi, untuk mastiin semua akomodasi band pas manggung.

Setelah semua persiapan pra konser hampir selese, tugas baru pun datang. Kali ini saya ditujuk untuk menjadi Stage Manage I. Mulailah membuat rundown, memikirkan stage flow, alur artis, dll. Dan puncaknya hari H, saya harus selalu di samping panggung untuk koordinasi ke SM lainnya, ke Koor lainnya, ke koor saya, ke sound, ke lighting, dll. Total hapir dari 10 jam pertunjukan terbayar ketika saya melihat venue penuh, tepuk tangan membahana, sing along, dan jeritan penonton. Semua terbayar dalam satu malam.

Untuk itu, saya disini ingin memberikan terimakasih dan acungan jempol untuk :

  1. Allah SWT, Yang Memudahkan Semuanya. Untuk kekuatan-Nya menjadikan saya bisa.
  2. Orang tua saya. Yang selalu sabar ketika anaknya ditelpon tapi tidak diangkat karena sedang rapat, untuk nasehatnya agar jaga kesehatan.
  3. Temen-temen yang ambil mata kuliah yang sama, untuk informasi tugasnya, ketika saya tidak masuk.
  4. Ricco dan teh Tara, untuk kepercayaan yang diberikan.
  5. Okky, koor yang selalu pusing, yang di hari saya akhirnya liat senyum di dirinya.
  6. Teh Niken, Widhi, dan Lidya, sesama SM yang riweuh banget. Khusus untuk Widhi, terimakasih karena udan bergabung dan memberikan tumpangan tidur.
  7. Brina, Ahmad, Uwie, Venda, Fransis. BSM yang menjaga artis kita.
  8. Insan dan Bembi. Technical Manager, yang membuat semua tampilan audio dan visual yang ok gila.
  9. Dityo, Aji, dan Indra, juga semua Logistik, dengan nama sandi BlackHawkDown. Untuk semua kebutuhan konsernya.
  10. Dita dan akomodasi. Makasih ya, untuk dikasih kamar Setabudhi, yang ga dipake..
  11. Ichel, Lo Maliq. Yang sangat sabar menghadapi Mas Adjie.... Yang udah menjadi penyambung kita.
  12. Semua Panitia, keluarga HI UNPAD, yang tidak tercatakan...


Ini adalah sebuah catatan, yang ingin tercatatkan...



Saya, Brina, Widhi, Teh Niken. After The Show.

Friday, December 26, 2008

A Lot Works to DO!!!!

Well, lima belas motions debat yang harus didefinisikan, dibuat case positif dan negatifnya, juga menemukan clashing poitnsnya, dan harus selese Minggu ini udah membuat saya kalang kabut...

Ditambah essay buat TC, yang mana harus belajar mengenai investasi, bikin case positif dan negatifnya, nyari faktanya, dan juga selese Minggu ini...

Ditambah tugas Lingkungan Hidup dalam HI, yang mana harus mencari fakta untu makalah, nulis tentang kebijakan lingkungan, belajar tentang Uni Eropa...

Ditambah tugas Organisasi Internasional, yang mana harus memutuskan apakah MNC itu OI, dan mencari teori yang relevan....

Ditambah tugas akhir Lingkungan Hidup dalam HI, yang mana harus menjelaskan salah satu kasus politik lingkungan, implikasinya, dan seterusnya...

Ditambah belajar untuk enam mata kuliah yang belum ujian akhir...

Sama dengan,

BEGADANG
DITEMANI KOPI
DAN TOLAK ANGIN
DAN LAGUNYA DEWI LESTARI
DAN TIDUR SEBENTAR....


Sigh...


David

Thursday, December 25, 2008

Liburan hanyalah L-I-B-U-R-A-N...

... karena saya harus bergelut dengan banyak hal. Habis tahun baru nnati, jadwalnya adalah UAS kawan-kawan, dan entah mengapa banyak banget tugas akhir yang merupakan tugas prasyarat UAS, dan saya harus belajar buat enam mata kuliah yang belum diujikan dari sepuluh yang saya ambil semester ini.

Sementara, tugas IVED juga gak kalah edunnya. Minggu adalah hari debat, and face it!!

Jadinya liburannya, SECARA RESMI SAYA TUNDA....


David


NB : tapi taun baruannya jadi kan ;P

Wednesday, December 17, 2008

I'm On My Deadline...

... to Regionalism Task... The deadline is today, at 3 P.M, the lecturer want a paper, we only have some pages...

C'mon fellas, we have something to worry about...

Sunday, December 14, 2008

Hey, I Have Class In The Morning...

... but I can not sleep tonight.

I've a strong coffee this afternoon, and suddenly I realize coffee will make me stay up at night. I've class in 10. I've 2 final task, that I never touched. And I messed up...

... suddenly I want to have a girlfriend...

... Is It The Time ??? Or is it the moment when the melancholic slash romantic side of me just show up ???

Only God knows, and I believe God will give me the answer...


NB : Actually, I want to write about Symphonesia and my trip to Riau, but I'm kind of tired..

Monday, November 17, 2008

Bulan Ini Akan Jadi Bulan Paling Sibuk Buat Saya...

... karena bulan ini saya sibuk banget (heh!). Intinya, maaf buat semua yang terbengkalai, semua janji yang tak tertepati, semua kegiatan yang harus dipengding, dan sebuah minpi yang harus dikubur dalam-dalam (lebay mode ON noh).

Saya adalah tipe orang yang suka banget sibuk. Ikut kegiatan inilah, kegiatan itulah. Ikut klub inilah, ikut klub itulah. Padahal, rutinitas saya aja bisa dikatakan udah menyita waktu. Kuliah ternyata gak sebebas yang dikira ya. Saya masih harus datang ke kelas setiap hari, dengan pengecualian Selasa karena saya ga ada kelas, dan Rabu karena saya kuliah FULL satu hari, yang akhirnya saya itung dua hari. Hehehe. Belum lagi tugas yang bejibun. Waduh, kadang-kadang pengen teriak sekencang-kencangnya kalo udah ngomongin tugas. Belum lagi ujian, yang membuat saya harus putar otak, stresss abis!.

Nah, ga tau kenapa, saya itu tipe orang yang gampang ngambil kerjaan. Ditawarin panitia ini, hayu... Ditawarin jadi divisi anu, okeee... Ditawarin aktif di sini, ga masalah. Intinya, selama kerjaan saya itu bisa saya handle, waktu-tenaga-dan-terkadang-uang ga jadi masalah. Sampai saya sadar sesuatu...

... bahwa ternyata November 2008 akan jadi bulan paling melelahkan tahun ini. Saya baru selesai di RENVILLE 2008 (OSpek JURusan saya) bulan lalu. Di kegiatan itu, saya dipercaya untuk gabung di divisi Acara. Selesai RENVILLE, menggilalah saya di SYMPHONESIA. Ga tanggung-tanggung, di sini saya masuk di Divisi Konser. Mulai dari bulan lalu, saya double job. Ngurus RENVILLE dan SYMPHONESIA. Di Sympho, saya jadi penghubungn Artis Utama dengan kita. Telfon sana telfon sini, rapat progress report, hingga harus meeting di Jakarta. Alhamdulillah, Maliq & d'esssentials, salah satu artis yang menjadi tanggung jawab saya di Sympho, bersedia untuk tampil sebagai Main Artist di 29 November 2008.

Nah, jalan untuk menghadirkan Maliq itu yang berliku. Tengah bulan ini saya disibukkan dengan UTS. Di mana pada saat itu pula urusan dengan artis lagi intens-intensnya. Jadilah, terkadang, saya lari sana lari sini. Atur jadwal semepet mungkin. Yang pastinya, temen-temen saya udah bilang, "Vid, lo sumpah ya, ....". Hehehehe... Untungnya Sympho berakhir akhir bulan ini, hingga saya menyadari bahwa...

... tanggal 30 November saya terbang ke Riau. PNMHII XX telah menanti, dan saya adalah salah satu delegasi UNPAD. Satu minggu di Riau akan saya anggap sebagai kerja dan liburan. Karena gossipnya, kita bakal ke Pulau Bintan, tadinya sih pemgen extend ke Batam, atau ke Singapura sekalian, hingga saya ingat bahwa ...

... tanggal 8 Desember itu Idul Adha, dan saya harus pulang ke Pekalongan. Secara ya, saya baru dapet flight pulang Pekanbaru-Jakarta itu tanggal 7 Desember, jadinya saya pake flight ke Semarang sesudah itu, libur deh saya. Ternyata,....

... kemungkinan minggu depannya ada seleksi IVED....


ARRRRRRGGGGGHHHHHH!!!!


David,
yang-pengen-banget-liburan-yang-LIBURAN..

Sunday, November 16, 2008

Promosi Nih....

Karena saya adalah stage manager untuk Konser Kebudayaan SYMPHONESIA, 29 November 2008, Sasana Budaya Ganesa Bandung...

Datang ya...


Tuesday, June 17, 2008

A Nightmare Is Close To Me

Di kamar saya ada sebuah kalender yang bisa ditulis dan dihapus. Di tempel di atas meja belajar saya. Dan berfungsi sebagai agenda. Semua kegiatan saya, kuliah, latihan nyanyi, rapat, deadline tugas, jadwal ICT, hingga rencana pulang ada.

Biasanya saya antusias ngeliatin si kertas biru putih itu, yang jadi penanda kalo saya itu tipe mahasiswa yang rajin (dan tentu aja sibuk). Tapi akhir-akhir ini, saya males, Saya ngerasa horor kalo liatin dia. Dan ngerasa kalo, duh, banyak yang (seharusnya) bisa dikerjain.

Dan sekarang, saya peling ngeri liat di kolom yang saya tulis tanggal 20. Itu tanggal deadline Tugas Akhir saya. And, I'm still working on it, slowly...

Ngeri beneran....

Saturday, June 14, 2008

Ujian Lisan PHI1, Kalo Ini Lewat, Semester 2 Juga Lewat!!!!

Jadi gini ya, menurut saya dan beberapa teman HI UNPAD 2007, semester 2 ini kita cuma kuliah satu mata kuliah aja, Pengantar Hubungan Internasional 1. Oh ya, sama Praktikum Komputer (yang menurut saya, saya harus lulus..), di mana mata kuliah ini presentase kehadirannya harus 100%, gak seperti mata kuliah lain yang 80% (berarti bisa bolos kelas 3 kali gitu). Nah, pendapat yang sangat abssurd ini hampir diimani oleh semua angkatan saya. Masalah ekspektasi yang berlebih dari semseter ini udah pernah saya bahas di sini. Juga udah pernah Gope bahas di sini. Ayo Bima, bahas masalah ini juga... (devil mode : on).

Nah, masalah tersebut berimbas ketika musim ujian tiba, baik itu UTS maupun UAS. Kita, ya yang percaya asumsi awal tadi, hanya akan fokus di dua mata kuliah itu. Lebih tepatnya sih, kita cuma fokus di PHI1, yang lain....lewat. Maka, ketika Pak Wawan, dosen utama PHI1, mengumumkan bahwa UAS PHI1, yang mana formatnya sama dengan PIP, di mana dosennya juga sama, akan dilaksanakan mulai 9 Juni 2008 dan akan dimulai dari 2007, maka semua fokus hidup saya berpindah ke event akbar semester ini. Mencari fotokopian, minta soft file tugas, foto copy daftar buku, teori dan prominent, (mencoba) membaca reading kit, hingga berdoa pada Yang Maha Kuasa. Oh ya, tak lupa minta restu orang tua. Sekali lagi, terima kasih buat Kang Oce, tutor kita tercinta, yang udah ngasih tips and tricks buat ngadepin ujian yang satu ini, meski sebenarnya kita udah pernah kok Kang ngerasain di PIP, but well, for what is worth, THANK YOU.....

Maka, jadilah saya, yang berNPM awal, pada 9 Juni kemaren, harus menghadapi UAS Lisan PHI1. Saya, yang sangat odong-odong dan sotoy, tidak membaca reading kit, yang mana merupakan sumber dari semua pertnyaan UAS. Saya hanya bisa pasrah. Berdoa. Dan minta restu orang tua. Buku-buku kunci juga prominent juga rada-rada gak bisa. Saya cuma tau konsep secara global. Realisme itu gimana. Liberalisme itu memandang negara sebagai apa. Post Modernisme itu pengen teori gimana. Ya gitu lah. Makanya, saya sudah pasrah untuk pertanyaan pertama, pasti saya akan gagal di sini. Untung sukur kalo dapet buku atau tokoh yang emang semua orang tau. Saya hanya akan berharap di pertanyaan kedua, yang merupakan pertanyaan eksplanasi. Yang penting logika berpikir kita jalan. Ya. begitulah saya.

Orang pertama yang maju hari itu adalah Mitha dan dia dapet pertanyaan yang sangat...sangat...menyakitkan hati, Bahasa Inggri buat "Le c'estat, c' moi". Saya tahu, saya tahu. Tapi Mitha tidak tahu. Yah, padahal kalo saya yang didepan alamat B di tangan tuh. Mungkin bukan rezeki saya kali ya. Tapi, perasaan ini gak enak. Bener juga.. Di depan penguji panel (Pak Arry, Pak Wawan, Kang Oce, Teh Sendy, Bang Satriya) saya deg-degan mampus. Begitu Pak Arry bilang bahwa saya dapet Realisme yang ada dalam pikiran saya adalah "MAMPUS gue, realisme bukan spesialisasi gue...". Dan benar, "Jadi realisme itu banyak variannya, salah satunya Rational Choice Realism. Tokohnya ada dua, salah satunya Krasner. Satu lagi saiapa????". Duh, Krasner aja saya beru dengar pak, apalagi temennya. Ya udah demi menjawab, meskipun tau akan salah, yang keluar dari mulut ini adalah "Kenneth Waltz, Pak". Ya udah, saya harus balik dan mencarinya di reading kit. Dan ternyata sodara-sodara, jawabanya adalah Joseph Grieco.

Setelah menunggu hampir satu jam, saya kembali menghadap panel buat pertanyaan kedua. Teh Sendy, I TOTALLY LOVE YOU......... Makasih untuk pertanyaan yang ternyata saya bisa jawab. "Jelaskan model Prisoners Dilemma dalam HI". Wew... Dan untungnya, Kang Oce pernah ngejelasin ini di tutor... Hehehhehehehehe. Jadilah saya kurang dari lima menit di depan panel. Dan ketika saya berbalik ke belakang, temen-temen saya ngasih tepuk tangan. Berasa dapet OSCAR deh....

So, setelah tanggal 9 Juni, rasa-rasanya ujian berakhir, meskipun harus ngadepin ujian tulis tanggal 16 sampe 20 ini. Yah, minimal beban saya tinggal Tugas Akhir PHI1 yang belum kelar, masih 20%. Tapi saya yakin, bakal kelar cepet kok....

Folks, let's get the Ujian Tulis begin....

Cherss.....

PS : Stop to gossiping me!!! Itu cuma nambah pikiran saya aja. Kamu gak mau kan saya berubah......

Siapa Yang Salah...

Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah...
Ketika saya salah, saya tidak melihatnya sebagai sebuah kesalahan.
Ketika seharusnya saya bisa berbuat benar, saya malah memilih untuk bertindak tidak sesuai aturan.
Ketika saya bisa memberikan sebuah kontribusi, saya memilih untuk tidak peduli.
Ketika saya tahu pasti bahwa kesalahan ada di diri ini, saya malah menyalahkan dunia.

Semuanya terjadi, saya sadari, tapi tidak berusaha untuk memperbaiki.
Pepatah bilang, belajarlah dari kesalahan, ketika saya membuat pernyataan, kesalahanlah yang harus belajar dari saya.
Mengapa sering saya berbuat salah.
Menyalahkan lainnya.
Tak peduli.
Meski akhirnya menyiksa diri sendiri.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus saya salahkan.
Keadaan.
Lingkungan.
Sahabat.
Lawan.
Atau seharusnya saya menyalahkan diri sendiri.

Entahlah...

Wednesday, June 04, 2008

Menggila TA (Lagi...)

Ya, saya sedang menggila TA untuk yang kedua kalinya. Sekali lagi, biar lebih dramatis, SAYA SEDANG MENGGILA TA UNTUK KEDUA KALINYA...NYA...NYA (kasi sedikit echo, biar keren). Intinya, minggu ini sangat hectic banget deh, untung aja ketolong sama pengunduran deadline tugas yang diundur hampir sebelas hari dari jadwal awal. So, thank you so musch to Kang Oce, my beloved tutor, who make it possible to happen... Hehehe, terima kasih buat semua bimbingannya semseter ini.... Hope, we can make the second season of our tutorial...

Mengapa kedua kalinya ? Karena hal ini sudah pernah terjadi hampir enam bulan yang lalu. Tepatnya Desember 2007. Saya, dengan tingkat kekhawatiran MABA, memutuskan untuk mempersingkat liburan pulang kampung hanya untuk mengerjakan TA. Ya, TA, Tugas Akhir untuk sebuah mata kuliah yang, alhamdulilah, saya lulus dengan nilai B. Saya, yang seharusnya masih liburan hingga awal tahun 2008, harus ke Jatinangor pada Hari Natal. Dan, oke mulai tarik nafas dalam-dalam, sangat beruntung bahwa deadline tugas DIUNDUR. D*mn. Kalo gitu kan saya bisa taun baruan di rumah, tapi sudahlah itu semester lalu...

Yang penting, TA ini dikumpulin setelah UAS, jadi kalo UAS saya screw up, just leave it...

Saturday, May 24, 2008

Kuliah, Benarkah Begini???

Saya baru baca blog terbarunya neng Gope, sempet suprise juga karena ternyata udah banyak entry baru dari teman saya yang satu ini. Hmmm, enaknya mungkin saya ngenlin siapa Gope dulu kali ya... Well, saya kenal dia di HI UNPAD ini. Pertama kali kenal karena....namanya (I mean, her real name...) itu panjang banget. Omongannya meaning. Oh ya, begitu ditanya pertama kali sama dosen EFIR kita tercinta itu (I mean, Pak Reza) tentang siapa yang punya blog, dia yang pertama kali jawab, and her blog-url attract me to read... Well, Pe, ini sekalian promosiin anda juga kan... Hohoho....

Nah sekarang masalah apa yang menjadi perhatian saya di post terbarunya Gope adalah fakta bahwa kuliah di semester 2 ini.....sangat mengasyikan tapi menyiksa.. Bener katamu nak, niat tulus suci itu tidak dapat terealisasi dengan baik. Keadaan tidak mendukung. Dosen yang jarang masuk. Tugas yang tidak menumpuk. Toturial (yang tetap saja) menyenangkan. ;P Mungkin ini jawaban atas doa saya selama semester 1, ketika kuliah sangatlah padat, tugas menumpuk dan menyebabkan saya kurang tidur dan sering migren, hingga memutuskan untuk postpone dalam sebuah UKM.

Tapi tunggu, ketika awal semester 2 ini, saya sempet membuat sebuah pernyatan, yang menurut saya sendiri, GILA.... Yup, saya berharap dalam semester 2 ini, saya rajin belajar, rajin masuk kelas, gak kopas tugas lagi, ngerjain semua tugas dengan benar, dan melahap reading kit. Semua itu ditunjang fakta bahwa kuliah di semseter itu sangat melelahkan, ya fisik ya psikis juga. Juga ditunjang fakta bahwa IP semester 1 saya, menurut saya sih, kurang memuaskan.Hanya stuck di sedikit angka dibelakang koma, meski di depannya 3. Nah, demi memuaskan orang tua dan juga diri sendiri, saya punya tekad untuk lebih baik di semsester ini. No more Jatos on Monday to Friday. No more pirate DVD hunting till weekend. No more 21 in weekdays. No more obsesive-complusive to shoping. No more Bandung in weekend if it's not important. Do more reading, scientific one. Do more learning. Do more pray. Well, let we see now..

Awal semseter 2, gelagat gak baik udah mulai muncul. Beberapa nama dosen yang menurut saya galak, ternyata biasa saja. Mata kuliah yang seharusnya berat, lewat. Banyangan tugas-tugas yang berkepanjangan , gak ada tuh. Palingan tinggal PHI I (yang harus lulus, kalo gak bisa trauma) dan Komputer (yang harus masuk 100% demi UAS) yang menurut saya menjadi fokus perhatian saya dan teman-teman 2007 selama semester ini. Oh ya, tambahan lagi, Statistik Sosial deh (secara kita harus ngecek bolak-balik sebelum keluar kosan, apakah udah bawa kalkulator, apakah udah bawa tabel, apakah udah pake sepatu bukannya sendal!!!). Untuk yang lainnya, we hope we get A's.... hehehhehe

Sebagai dampak dari ketidaksemangatan kuliah semester ini, alhasil ada beberapa hoby yang (akhirnya) saya jalankan. Saya jadi menggila lagi dengan novel. Saya jadi menggila lagi dengan film. Saya jadi menggila dengan main. Saya menggila dengan internet. Dan, saya menggila dengan jalan-jalan. Satu hal yang ditunggu-tunggu setiap hari adalah apakah akan ada SMS dari Rendy yang menyatakan bahwa kuliah gak ada, apakah akan ada ujian skripsi yang membuat dosen akan nguji, apakah akan ada kuliah umum, apakah akan ada tugas yang berat. Dan semua akan senang jika tidak ada kuliah, tidak ada dosen, dan tidak ada tugas. Pastinya, esensi kuliah gak kita dapatkan di semester ini.

Wait...wait... Itukah yang saya inginkan??? Sebenarnya tidak. Banyak yang bilang bahwa semseter 2, dan semester genap lainnya, mempunyai jangka waktu yang pendek. Hal tersebut berdampak pada kenyataan bahwa, konon katanya, mata kuliah yang ada di semseter ganjil rata-rata adalah mata kuliah yang gampang. Benarkah? Gak juga sih... Semuanya, sebenarnya, bisa dibilang mata kuliah yang tidak main-main. Namun, kendalanya ya itu, waktu yang singkat, dosen banyak keperluan, dan lain-lain. Yang saya inginkan sebenarnya atmosfer kuliah seperti semseter kemarin. Biarlah kita kuliah padet, ngerjain tugas yang seabrek-abrek, ngerjain tugas dengan deadline ngumpulin yang gila-gilaan. Tapi, yang kita dapatkan adalah feel kuliah yang sebenarnya....

Dan mungkin, di akhir semester 2 ini, saya harus kembali berdoa. Mudah-mudahan semester depan, spirit kuliah itu datang lagi....

Tuesday, April 29, 2008

A Confession of A Show Director

Well, selamat datang di pengakuan seorang show director. Singkatnya, ini pengalaman pertama saya kerja di Divisi Acara. Kebetulan saya jadi Person In Charge kalo koordinatornya lagi gak ada, malah diangkat segala jadi co-koor. Mulai dari bikin konsep, mikirin tema, dress code, mikirin apa yang mau ditampilin, bikin rundown, jaga waktu, sampe ribetnya hari H.

HI-LITE (Hubungan Internasional for Long, Intimate, and Turning on Nite) : The Lite Side of HI merupakan malam keakrabannya HI UNPAD. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyelenggara makrab adalah angkatan termuda di jurusan, wich means untuk tahun ini angakatan 2007-lah yang bertanggung jawab untuk menjadi panitianya. Well, kami-kami ini baru saja lulus SMA, minim pengalaman dengan ego yang masih sangat besar. Namun, dengan semua kerja keras, tawa, tangisan, keringat, hingga emosi yang tercurahkan, kami menjadikan Selasar Sunaryo pada 26 April 2008 menjadi berkilauan.

Sejak pertama mulai staffing buat acara ini, saya memang sudah memutuskan untuk masuk ke Acara. Alasannya jelas. Di Logistik, saya orang yang tidak suka teknis. Di Marketing, saya kurang bisa menjual. Di LO, saya bukan perempuan. Di Humas, malas dengan birokrasi. Di Keamanan, bisa jadi bahan tertawaan. Di Konsumsi, tertarik tapi tidak akan all out. Jadilah Acara menjadi tujuan saya, sekaligus lahan saya untuk belajar. Kebetulan Widhi, koordinator divisinya, menurut saya berpengalaman dalam ngebuat acara seperti ini. Secara, saya memang belum pernah bikin acara. Apalagi langsung ada di divisi Acara. Jadilah saya, untuk pertama kalinya, menjadi bagia dari sebuah kepanitiaan di kampus.

Tugas pertama divisi ini tentu aja mengodok konsep mentah (atau lebih tepatnya membuat konsep) yang sudah diajukan menjadi sebuah konsep yang jelas dan dapat diwujudkan menjadi sebuah acara dengan format gathering. Yang pertama muncul ke permukaan sebagai konsep adalah bahwa kita akan ngundang band yang formatnya bisa akustikan (atau yang tidak memainkan musik gonjrang-ganjreng), sehingga konsepnya adalah One Night With. Diterima oleh angkatan, terkendala oleh aturan.

Gagal dengan konsep pertama, konsep pun digodok dengan sangat cepat!! Kurang dari tiga jam..... Hasilnya, The White Side of HI, yang akhirnya berevolusi menjadi HI-Lite : The Lite Side of HI (yang dikarenanakan oleh penyesuaian nama, sehingga tidak terkesan satu warna). Kita juga bikin tagline donk, berasa film gitu, which is Colors Are Sparkling (yang mana awalnya takut salah presepsi dan membingungkan angkatan atas).

Lanjut ke tempat. Sempat bingung karena :
  1. Kalo bisa outdor
  2. Bisa nampung sampe 700 orang
  3. Bisa berkesan
  4. Bisa sewa seharian
  5. Sesuai budget!!!!
Pilihan pertama, Dago Tea Huis. Kelebihan, luas, murah, outdoor pisan. Kekurangan, bakal menggila dekor, secara tempatnya gak bisa dibilang udah manis aja gitu..

Pilihan kedua, Selasar Sunaryo Arts Space. Kelebihan, tempatnya udah cantik, luas, keren, outdoor. Kekurangan, budget....

So, we take SSAS. Tanda tangan kontrak, fixasi tempat, dan lain-lain bukan bagian saya. Bagian saya adalah bikin rundown. Well, disinilah saya memulai peran sebagai Show Director. Dengan hanya berbekal catatan yang diberikan LO, saya dan Widhi harus membayangkan flow acara yang bakal kita wujudin. Sesorean kita ngegodok semua materi yang udah siap untuk masuk ke rundown, sebelumnya nanti dipublish dan akan di fix menjadi master rundown. Makes some phone calls, arguing, some nicotin akhirnya mengantarkan rundown kita siap publish.

Setelah dipublish, ternyata untuk menjadikannya master rundown, negosiasi berlanjut. Sesi telepon pagi-siang-malam dengan LO, juga dengan pengisi acaranya, more arguing, more nicotin mengantarkan master rundown kita, yang siap menjadi sebuah show di SSAS 26 April-nya.... Saatnya menajdi seorang Show Director...

Untuk kamu yang akan menjadi SD, untuk pertama kalinya, seperti saya, here are some tips... :

Siap Menjadi Seorang Yang Jutek
Kalau kamu bukan seorang yang jutek, siap-siaplah untuk menjadi seseorang yang lain. Jutek dibutuhkan untuk menghadapi pengisi acara, panitia lain, atau pihak-pihak lain yang bener-bener ganggu. Bagi temen-temennya SD, maklumilah tuntutan pekerjaan ini!!!

Fashion Is Painfull
Ingat bahwa meskipun kamu yang membuat aturan dresscodenya, meskipun kamu mempunyai sejuta impian fashion yang ingin diwujudkan, meskipun kamu ingin kelihatan fashionable, ingatlah bahwa menjadi SD haruslah nyaman. Kamu akan sering lari sana sini, naik turun tangga, berkeringat, dan lain-lain yang akan membuat kamu berpikir berkian-kian kali untuk menggunakan sesuatu. Sangatlah tidak bijak untuk memakai kombinasi berikut, long sleve white shirt, grey chekker vest, grey trousers, a pet cap, and PANTOFEL.... Hal terakhir akan membuat kamu merasa pegal-pegal selama dua hari setelah acara. Pakailah kets....

Demikian pengakuan dan pengalaman saya. Ini adalah sebuah langkah baru, yang mungkin akan saya tekuni.. So, enjoy...


Regrads,

David


PS : Foto bagaimana saya setelah acara bisa dilihat di MP saya...