Monday, January 31, 2011

To Have A Million Friend, You Just Need A Few Enemies

Sound like high school, or college life, right? Itulah yang saya dapatkan setelah menonton The Social Network, sebuah film tentang awal mula Facebook, sebuah situs jejaring sosial terbesar saat ini dan bagaimana Mark Zuckenberg memulai semua hal yang menjadikannya miliuner termuda saat ini. Mark adalah tipikal anak kuliahan yang berusaha untuk mendapatkan status sosialnya di kampus, kecuali kampusnya adalah Harvard, one of the old and prestigious college in the world, di mana row crew, kelompok persaudaraan, dan club-club tertentu adalah puncak dari status sosial di sana. Tidak ada yang akan melirik seorang kutu buku, kecuali kutu buku tersebut membuat sesuatu yang akan menggemparkan Harvard, bahkan dunia. Dan Mark melakukan segalanya.

Percaya atau tidak, status sosial ternyata tidak hanya terjadi di Amerika Serikat sana, namun juga di Indonesia, dan mungkin di universitas manapun di dunia ini. Coba lihat lagi keadaan kampusmu. Adakah yang disebut kehidupan harmoni di mana kampus tidak terpecah menjadi kelompok-kelompok? Adakah kampus yang tidak menjadikan dengan siapa seseorang berteman sebuah hal yang penting? Atau, adakah kampus yang menganggap bahwa kehidupan sosial hanyalah sebuah ironi belaka yang harusnya sudah masuk peti es peradaban karena kampus adalah institusi pendidikan? Mau tak mau, saya harus menjawab dengan lantang bahwa kehiupan sosial seseorang di kampusnya memang didorong oleh semua hal tersebut, teman, kelompok, geng, apapun kamu menyebutnya yang akan memberikan kamu status sosial di dalam kehidupan sosial yang sangat kompleks di masa kuliahmu.

Mulai setuju dengan saya, atau malah berbeda pendapat? Mari kita lanjutkan.

Zuckeberg memang pada akhirnya menjadi terkenal, sebagai penemu Facebook, sebagai miliuner dunia, tapi ternyata di balik kesuksesannya mencapai status sosial yang luar biasa, dia membuat ‘perang’ dengan beberapa orang, yang sayangnya mungkin dulunya adalah teman baiknya ketika dia masih dikategorikan sebagai seseorang yang cupu. Dia akhirnya harus menghadapi dua tuntutan hukum. Yang pertama adalah tuntutan dari the Winkenvlosses dan Narendra tetang kemungkinan bahwa Facebook dibangun atas dasar ide HarvardConnection, yang mana sedang dikembangkan oleh mereka dan Zuckenberg bersedia untuk membantu. Yang kedua, yang juga sebuah ironi menurut saya, adalah tuntutan dari Eduardo Saverin, sahabat/teman dekat/CFO/co-founder Facebook atas pengubahan ownership yang dimilikinya, yang menurut saya adalah sebuah keputusan bisnis yang sangat-sangat salah yang dilakukan oleh Saverin sendiri. Jika dilihat, Zuckenberg akhirnya berkonfrontasi. Dengan orang-orang yang mungkin sudah ditakdirkan untuk berseberangan dengannya, Winkenvlosses dan Narendra, serta dengan orang yang sebenarnya berada dalam lingkaran dalam kehidupan sosial Zuckenberg. Saverin adalah pemodal Facebook pertama yang juga teman dekat Zuckenberg. Bisa dikatakan keduanya bersahabat hingga akhirnya masalah uang juga yang memisahkannya.

Sound so college life, right? Kita mungkin mempunyai orang-orang yang memang sudah dari awalnya tidak akan cocok dengan kita. Kita juga menghadapi orang-orang yang berada di posisi netral, dalam artian ada di sana, mengenanlnya, namun hanya sebatas itu. Kita juga mempunyai orang-orang yang sangat dekat, secara personal. Namun, terkadang manuver tajam harus diambil dalam kehidupan sosial di kampus. Mungkin orang-orang yag bersebrangan dengan kita ada di posisi puncak jaringan sosial kampus. Mungkin mereka yang netral sebenarnya orang yang akan menghargai dan menerima kita apa adanya hingga tiba masanya kita meninggalkan kampus. Mungkin yang pada awalnya berada dalam lingkaran dalam kehidupan sosial kita sebenarnya mempunyai agenda lain, atau bahkan kita yang ternyata mempunyai agenda lain dibaliknya. Siapa yang tahu. Kehidupan kuliah itu brutal, penuh intrik, basa-basi, sikut sana-sikut sini, tapi juga berarti sejuta kemungkinan mendapatkan orang-orang terbaik dalam hidupmu. Mau tak mau, suka tak suka, yang awalnya mungkin kamu mempunyai idealisme menjadikan kampus hanya ssebagai tempat belajar, akhirnya menyerah kepada keadaan bahwa status sosial adalah segalanya. Jika tidak, kita sudah tahu akan menjadi siapa, kita akan tetap menjadi dia yang tidak dikenal, dia yang hanya akan berdiri di pojok, dia yang mungkin hanya akan menyantap makan siangnya sendirian.

Tapi, saya juga tidak seratus persen setuju dengan sistem sosial yang ada. Terkadang, sistem sosial ini malah membatasi interaksi yang ada. Kamu hanya berkutat di satu putaran saja, tidak berkembang. Ketika kamu akan mulai mengembangkan jaringan, kamu malah akan dianggap akan mulai pindah haluan. Kamu yang berada di puncak sana akan menjaga reputasi sebersih mungkin, demi posisi. Kamu yang tidak dikenal berusaha membentuk reputasi. Brutal, sadis. Yang mungkin seharusnya terjadi adalah sebuah sistem yang saling harmoni, dalam artian dinamika pertemanan yang terus berputar meskipun memang kamu hanya akan berpusat pada satu titik saja. Berteman bisa dengan siapa saja, tapi dalam memilih sahabat tentu kamu harus sangat selektif. Ada perbedaan besar antara teman dengan sahabat. Tidak usahlah saya lanjutkan apa itu teman dan apa itu sahabat, karena saya yakin kamu semua sudah tahu jawabannya.

Beruntunglah saya. Di tempat saya sekarang menuntut ilmu, sistem yang ada bisa dibilang adalah sistem sosial yang saya bayangkan mengenai kehidupan kampus. Kami memiliki kelompok-kelompok sendiri untuk berinteraksi, tapi bukan berarti juga kami tertutup dengan yang lainnya. Saya masih bisa nonton bioskop dengan teman-teman yang biasanya tidak nongkrong bareng, teman saya pun masih dengan bebas main futsal satu angkatan. Kami profesional, ketika sudah terkait dengan kuliah dan kerjaan lainnya. Kami dapat membagi mana yang privat dan publik. Sehingga, kami tahu pasti bahwa privat harus diselesaikan dengan privat juga, begitu juga dengan urusan publik.

Mungkin, yang harus dicatat adalah sebuah konsep yang menurut saya sangat manusiawi, lawan. Saya tidak mau munafik dengan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Saya pernah berada di posisi memiliki lawan, saingan, atau apapun kamu menyebutnya. Namun, lambat laun saya mengerti, bahwa hakikatnya lawan hanyalah mereka yang berbeda cara pandang dengan kita, meski objek yang dipandang adalah sama. Perspektif. Dan beruntunglah saya bahwa jurusan saya mengajarkan banyak perspektif, yang ternyata membawa banyak juga pelajaran hidup. Dari sana kami berpendapat bahwa perbedaan yang ada bukan untuk ditonjolkan. Hal terebut hanyalah sebuah alternatif lain dari memandang sesuatu, dan akhirnya bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan.

Pada titik ini, saya mulai dapat melihat sebuah titik terang. Tidak perlu menjadi Zuckenberg yang akhirnya harus berhadapan dengan teman dekatnya sendiri di mata hukum, demi mendapatkan jutaan teman lainnya. Yang dibutuhkan adalah mejadikan mereka yang berada di dalam sistem sosial kita sebagai TEMAN, dan mencari beberapa SAHABAT. Dan saya pun akhirnya harus bersyukur, bahwa the entire experience of my college years is not a Facebook experience, in Mark perspective. He need to make a few enemies, to gain a million friends. In my Facebook experience, I can add a thousand people, as friends, but I can share my life, this white, black and grey experience, with a few, certain, intimate friends, who I called them, my bestfriends.

Setitik Memori di Berjuta Keping Kenangan

Saya baru saja selesai menonton Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Sebuah film yang menurut saya sangat, sangat bagus. Entah kenapa saya baru menontonnya sekarang, padahal film ini sempat masuk nominasi Academy Awards, yang berarti seharusnya sudah saya tonton berulang kali hingga saya tidak ingin menontonnya lagi. Film ini bercerita tentang seseorang yang ingin menghilangkan memorinya, menghilangkan setitik kenangan tentang sesuatu yang spesifik, hingga dia dapat bangun dari tidur dan menganggap bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi. Ironis, dan futuristis, meskipun saya tidak yakin bahwa hal semacam itu bisa dilakukan. Siapa pula yang pernah terlintas dalam akal sehatnya bahwa amnesia adalah sesuatu yang diinginkan dalam hidupnya, meski amnesia itu parsial.

Namun selama kurang lebih seratus menit, saya diajak untuk berpikir, jika memang hal semacam itu memungkinkan untuk dilakukan, adakah satu kenangan dalam hidup saya yang ingin saya hapuskan? Adakah seseorang, yang untuk alasan tertentu, tidak ingin saya ingat pernah menjadi bagian dari hidup saya? Dan mulailah saya untuk merenungi setiap kejadian, pencapaian, kegagalan, hingga orang-orang yang selama ini ada di kehidupan saya.

Mungkin jika diibaratkan memori komputer, otak manusia adalah super hard-disk yang bisa menyimpan entah berapa besar kenangan, dari hal paing sepele hingga hal-hal besar yang mendefinisikan hidup kita. Dalam memori super canggih bernama otak ini, saya mungkin menemukan beberapa hal yang memalukan hingga membanggakan, orang-orang yang saya kenal dan menjadi bagian hidup saya hingga orang-orang yang demi Tuhan ingin saya lupakan. Entah sudah berapa banyak yang saya ingat, namun entah sudah beberapa titik juga saya ragu untuk melupakan sesuatu dari ingatan saya. Memori, entah mengapa, selalu datang dan pergi, selalu ada di saat kita tidak ingin mengingat, dan terkadang hilang ketika dibutuhkan. Namun dia selalu ada di sana, siap untuk mengakses dirinya kapan saja.

Saya bersyukur bahwa dalam usia saya yang akan mencapai 22 bulan depan, banyak kenangan indah yang saya sendiripun masih bisa tersenyum, tertawa, hingga meneteskan air mata haru ketika mengingatnya kembali. Hidup saya terlalu berwarna, pencapaian yang saya lakukan telah menembus batas imajinasi saya akan hidup ini. Ada pula hal-hal sedih, menyesakkan, keterlaluan yang tidak ingin saya ingat kembali. Terlalu sedih, muram, menjengkelkan untuk dikenang. Namun, hey, bukankah hidup tidak selalu senang dan momen-momen yang bisa saya kategorikan titik terendah hidup ini juga merupakan momen yang membentuk hidup?
Di titik perenungan tersebut saya pun sadar, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya dan saya bersyukur untuk itu. Memori pahit yang ada pada otak saya ternyata bisa saya lalui dengan baik. Saya pun melihat kembali saya sekarang, di mana saya bahagia dengan hari ini dan terus menggapai bahagia di masa depan. Memori ada untuk menjadi pengingat, pembatas waktu begitu banyak momen hidup, hingga saya bisa bersyukur dengan apa yang terjadi hari ini dan yang akan datang.

Di era teknologi yang serba canggih ini, di mana memori dapat berceceran di berbagai keping-keping memori digital, sudah sepatutnya kita menjadikan masa lalu sebagai motivasi, untuk terus mejadi yang terbaik. Hidup tidak selalu sempurna, dan tidak selalu tidak sempurna. Sempurna adalah bagaimana cara kita memandang hidup sebagai sebuah anugrah.

Pada akhirnya, memori juga berhubungan paralel dengan hati, sekuat apapun keinginan saya untuk menghapuskan ingatan, hati selalu berbicara lain. Dan itulah indahnya hidup yang sebenarnya. Biarkan saja Joel dan Clementine yang menjalankan prosedur tersebut, karena pada akhirnya, seperti judul film itu, akan ada satu titik di memori kita yang menjadi kenangan yang entah bagaimanapun juga akan selalu ada di sana dan menjadi penanda siapa kita sebenarnya.

Tuesday, October 12, 2010

Terbanglah Bersama Garuda

Demi sesuatu yang besar, butuh pengorbanan yang besar pula.

Demi tiket murah, kemah di JCC pun dijabanin.

Dengan azas ingin tiket di bawah 6 juta rupiah, atau mungkin di bawah 5 juta rupiah, untuk perjalanan selanjutnya ke Australia, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertaruh di Garuda Indonesia Travel Fair 2010. Setelah mendapatkan sms dari Lydia tentang GATF 2010, saya mulai mencari informasi di internet, dan terkejut bahwa CGK-MEL return hanya 410 USD. Bandingkan dengan fare normal yang sampe 700++ USD. Murah bukan?

Mulailah kami menyusun strategi dan mengumpulkan uang, dengan harapan 5 juta dapet tiket plus satu tiket untuk pempimbing. Sayangnya saya kurang jeli. 410 itu basic fare yang mana harus ditambah pajak, fuel, dll. Sayangnya lagi saya baru sadar itu ketika besoknya berniat untuk ke Jakarta bersama Nabila, teman saya yang lainnya. Jadilah semalaman cari info berapa pajak GA, dengan lihat kalkulasi tiket CGK-ICN saya, yang hanya 70 USD. Asumsi nih. Saya juga cari alternatif lain. Qantas yang 560 basic fare jadi 775 setelah tax. AirAsia direct MEL harus via KUL. Cathhay, via SIN atau HKG malah 1400-an. Gila ini. JetStar full booked. Maka demi kejelasan, diputuskan bahwa besoknya saya akan ke Garuda Bandung untuk konfirmasi pajak, untungnya saya kenal satu orang yang kerja di sana.

Ternyata, pajak untuk basic fare 410 adalah 140 USD! Jadi, kurang uang ceritanya. Paniklah saya dan minta uanglah saya ke teman-teman, dengan asumsi dapet tiket yang 550. Ke Jakarta dan baru ke GATF jam 6-an. Ternyata, yang berburu tiket bukan 100-200 orang, bisa dibilang ribuan. Apalagi ada midnight sale. Setelah mengantri di salah satu booth hampir satu jam, ternyata untuk tanggal yang kita pilih flight baliknya full booked. Cari tanggal berkali-kali, mbaknya bete. Kita disuruh mundur. Pindahlah Nabila ke booth lain, Shilla Tour, sementara saya mengantri ulang. Sayangnya, di booth yang awalnya teratur, mulai chaos. Mualilah saya pindah ke Shilla juga. Midnight sale tutup jam 12. Kita baru duduk jam 12. Untung si mbak masih mau ngurusin. Muailah mencari lagi, sayangnya memang full booked. Si mbak berjanji besok mau bantuin, tapi harga mungkin naik. Berdoa aja deh kita. Jam 2 baru pulang. Capek banget.

Besoknya, dengan mantapnya sampai JCC sebelum buka, dan atrian udah panjang aja. Langsung ke Shilla, dan ketemu mbak ang beda. Cari tanggal, dapet, sayang flight baliknya di waiting list. Si mbak nawarin combine jadi 587 untuk 10 hari stay. Keluar cari minum, sampe jam satu. Mulai ngumpulin duit lagi. Balik ke dalam, ternyata 587 hanya buat 7 hari. Paniklah kita, nge-push biat 10 hari. Sayang ga bisa. 557 tetep dihold, eh tetep waiting list. Ditawarin 597 buat 10 hari. Keluar, bingung, pengen nangis, kesel. Telpon sana, telpon sini. 911.

Balik lagi, 597. Cari tanggal. Dapet CGK-MEL dan MEL-DPS-CGK. Udah oke tuh. DPS-CGK tinggal 4 seat, si mbak bolak-balik ke Garuda. Kita duduk lemes. Ehhhh, ternyata ga bisa. Retur harus jalur yang sama. CGK-MEL-CGK atau CGK-DPS-MEL-DPS-CGK. Tentu opsi pertama, tapi ga ada. Akhirnya oke opsi kedua, dengan mundurin berangkat satu hari. Total 9 hari perjalanan termasuk terbang. Booked. Issued. Bayar.

Pengen teriak rasanya keluar JCC, udah jam 5 sore aja gitu.

So, teman-teman, dari 18-26 November, saya dan tujuh teman saya, plus satu pembimbing, akan berada di Australia. Doakan trip kali ini menyenangkan dan lancar.

Jadi makin cinta sama Garuda Indonesia, ga sia-sia jadi Frequent Flyer.

Sekarang, revisi proposal dan travel plan.

I'm excited, by the way!!!!



David

Thursday, October 07, 2010

Berburu Tiket

Selamat malam semuanya, untuk yang berada di Indonesia dan sekitarnya.

Kali ini saya sedikit super-excited dan super-pusing.

Jadi, kami-kami ini yang sudah tingkat 4, selain mempunyai kewajiban untuk segera mendaftarkan diri sebagai salah satu penstudi HI yang akan menuliskan skripsinya, di mana saya masih stuck di milih judul, ternyata juga mempunyai kewajiban yang disambut sukaria oleh semua, yaitu .... Praktikum Profesi.

Praktikum profesi seyogyanya adalah wadah bagi kami untuk mengaplikasikan apa aja yang dapat kami serap di kelas dalam sebuah kegiatan observasi lapangan. Dibawah naungan Laboratorium HI dan Jurusan HI UNPAD, kami akan mengamati serta mensimulasikan hasil observasi lapangan kami dalams sebuah pameran nantinya. Beban kreditnya juga cukup lumayan, 3 SKS. Dan pastinya semua berharap tidak mengulang, karena 'tradisinya' ini adalah acara per-angkatan.

Jadi kabar tentang praktikum ini sudah berhembus sejak akhir semester lalu. Merujuk pada praktikum sebelumnya, kami nati akan memilih destinasi, yang tentunya disesuaikan dengan banyak faktor, untuk kemudian melakukan beberapa kunjungan ke institusi yang berkaitan. Saya dan beberapa teman saya sudah mantap memilih Australia sebagai destinasi kami nantinya. Pertimbangannya, Australia itu luar negeri, relatif jauh, dan berbahasa Inggris. Bisa dibilang satu-satunya negara barat di wilayah Asia ini. Kami juga memperjuangkan agar kami bisa pergi dengan 'gaya kami', demi menekan pengeluaran, yang mudah-mudahan bisa dialokasikan ke pos lainnya, belanja mungkin.

Tapi itu cerita dulu, sebelum saya bertolak selama dua bulan di Korea. Ditunggu-tunggu kok ya belum pasti programnya, akhirnya, saat sebelum saya ke Korea, proyek kami ini dipetieskan. Berimbas pada pengeluaran selama di Negeri Gingseng, yang artinya, tidak menabung.

Angin segar datang awal minggu ini, bahwa dengan sistem praktikum baru, segala keinginan kami bisa diakomodir. Mulailah kami, yang dulunya sudah berangan-angan akan ke benua Kangguru, melelehkan lagi rencana itu. Dengan batas waktu pengumpulan hasil yang hampir dua bulan lagi, kami main-main dengan waktu.

Saudara-saudara, satu hal yang membuat ribet saat mau ke luar negeri menurut saya ada dua : tiket dan Visa. Untuk Visa Australia, saya baru saja chatting dengan teman saya yang juga ke New York bareng setahun yang lalu, menurutnya Visa Australia tidak akan seribet Visa US. Saya juga sudah survey di internet mengenai proses pembuatannya, yag mudah-mudahan tidak ribet.

Nah, jadinya masalahnya tinggal satu kan : tiket. Entah mengapa tiket ini kok ya ngeribetin banget. Direct flight dari Jakarta-Melbourne hanya dimiliki oleh Garuda Indonesia, dan harnganya lumayan, Untungnya akan ada GAFAIR 2010, yang memberikan potongan harga hampir 50%. Sayangnya, kalau memang kami niat ngejar tiket ini, kami harus sudah siap booking ... akhir minggu ini. Gosh!

Pilihan kedua adalah Qantas, yang meski beda 100 USD dengan tiket GA promo, tapi mudah-mudahan masih banyak tersedia. Oh iya, Qantas juga ga direct Melbourne, harus transit di Sydney dulu ternyata.

100 USD, satu jeans lah ya, atau support makan satu minggu. Hmmmmm.

Berburu tiket itu emang asik! Menelusuri website setiap maskapai dengan harapan ada tiket murah dengan destinasi impian. Kadang-kadang buat penyemangat saya setiap pagi.

Tapi entah mengapa, kali ini terasa ribeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet aja!



David

Sunday, October 03, 2010

Balada Tahun Keempat

Tidak terasa, sudah tiga tahun lamanya saya di Jatinangor untuk menuntut ilmu. Meskipun lebih banyak mainnya daripada di kelasnya, ada perasaan tersendiri ketika KRS awal tahun ajaran ini. Beban SKS mulai meringan seiring berjalannya waktu akademis, namun bukan berarti beban hidup juga turun dengan drastisnya. Entah kenapa, awal tahun ini seakan menjadi titik mula pembuktian saya dan teman-teman satu angkatan akan apa yang telah kami lakukan selama tiga tahun ke belakang. Ya, kawah candradimuka sudah di depan mata kawan-kawan! Siap ga siap, itulah realita.

Di mulai dengan adanya pilihan untuk mencantumkan Usulan Penelitian (yang berbobot 3 kredit) dan Skripsi (yang berbobot 6 kredit) pada rencana studi kami semester ini. Skripsi adalah kawah candradimuka itu! Peru tenaga lebih yang disalurkan, ini bukan hanya makalah 50 lembar untuk Tugas Akhir. Bisa dibilang, inilah pembuktian kami pada banyak pihak, mulai dari orang tua, teman, hingga dosen, bahwa selama tiga tahun kami menyerap apa yang dibincangkan di kelas. Kami memahami betul setiap teori dan aplikasinya. Dan kami kreatif serta inovatif dalam menuliskannya.

Mulailah kami menjadi makhluk-makhluk yang rajin ke perustakaan. Mencari ilham untuk tiga tema pra-usulan yang nantinya akan menentukan langkah selanjutnya. Saya pribadi baru mantap dengan dua angan-angan di kepala, sangat berat untuk merangkainya menjadi kata-kata satu halaman masing-masing tema. Teman saya ada yang sudah mengajukan judul, bahkan menjalani seminar usulan. Saya seakan-akan jalan di tempat! Hanya bermimpi sembari tanya sana tanya sini.

Bertanya pada kakak kami yang suda lulus, sudah sidang skripsi, sudah UP, sedang bimbingan mengakibatkan saya berkesimpulan bahwa pengalaman yang dilalui akan beragam. Saya takut, takut membanyangkan bagaimana saya nantinya! apakah target lulus Agustus ini tercapai? Atau saya akan menjadi sebagaian yang entah bagaiamana caranya akan berurusan lama dengan skripsi?

Maka seakan ada alarm kencang yang dibunyikan, "Hei kalian 2007, sudah saatnya bersikap dan menghasilkan sesuatu". Ada deadline yang harus dipenuhi.

Semoga balada ini akan dilalui dengan penuh sukacita, bukan dengan nestapa.

Semoga ...



David

Udah lama, ada yang kangen ga?

Halo, selamat siang.

Ya ya ya, judul di atas emang minta dikomenin banget. Dan ga tau deh ada yang mau ngasih komen atau ga. LOL.

Yang pasti memang saya sudah lama ga main-main lagi ke blog saya ini. Alasannya bisa beribu dan cukup dibentangkan dari Jatinangor sampe Dago. Tapi ga tau kenapa, di tengah-tengah kesibukan tugas ini (satu presentasi dan dua tulisan filsafat), saya pengen banget nulis. Jarang-jarang lho kepengennya sampe pengen banget. yang pasti ini ada ujan dan ada petir, mengingat emang itu faktanya, dan berharap ada yang baca posting ini.

Jadi selama ini saya kemana aja?

Ada kok, makin sering online. Cuma ya itu tadi, keinginan buat nulisnya lagi ga ada. Dan emang alasan klasik ya. Yang pasti saya sehat walafiat, meski cuaca saat ini ga bisa ditebak juga. Yang pasti sampai akhir 2010 ini, saya bersyukur masih diberikan kesehatan sama Allah SWT, masih diberikan kesempatan untuk menikmati hidup, dan juga rezeki yang berlimpah.

Sekedar review aja, awal 2010, setelah hampir satu bulan saya KKN di daerah Indramayu, saya ke Malaysia sekitar satu minggu untuk mewakili UNPAD dan Indonesia di the First ASEAN Student Convention on Leadership and Integrity di Selangor. Perjalanan yang unbelievable karena dadakan dan murni ga sengaja. Nanti di posting lainnya ya saya akan nulis ini, promise! Selanjutnya, selama Juni-Agustus kemarin, saya berada di Korea Selatan untuk summer school di Ajou University. Khusus untuk yang ini, tadinya saya berencana untuk membuat blog khusus dan melaoprkan secara langsung dari negerinya Lee Min Ho itu, tapi kok ya di sana malah main terus. Blognya juga udah saya hapus karena hanya satu posting doang. Sama seperti pengalaman saya di Malaysia, I'll try to make a post about it!

Lalu apa coba hubungannya sama judul di atas?

Ada lho!

Melalui dua perjalanan tadi, saya mendapatkan teman-teman baru. Dan terima kasih untuk teknologi, kami masih saling terhubung melalui Facebook. Dan sudah hampir dua bulan, kalau dihitung dari Agustus, saya mulai kangen dengan teman-teman saya itu. Ingin rasanya booking tiket dan langsung terbang untuk ketemu mereka, tapi ga mungkin lah ya. Dan saya yakin mereka juga merasakan hal yang sama.

Dari perasaan itulah, saya akan membuat janji, bahwa suatu hari saya akan mengunjungi mereka. Di belahan dunia manapun mereka berada. Seperti tag line Ajou Summer School tahun ini, Forever in Our Memories. Pertemanan baru ini saya syukuri sebagai karunia yang diberikan-Nya. Karena akhirnya saya punya teman di hampir semua benua di dunia.

Hmmmm, interesting kah?


David

Tuesday, April 27, 2010

Sheila Majid, A True Classy...


"Kaulah satu-satunya
Di antara berjuta
Insan Teristimewa"

Sheila Majid - Lagenda

Kali ini saya ingin bercerita tetang Shelia Majid. Saya sangat menyukai musik dan menghargai setiap orang yang berada di dalam industri tersebut. Menurut saya, industri kreatif bukan hanya memerlukan penguasaan bisnis yang mantap, tetapi juga kreatifitas yang tanpa batas. Dari sekian banyak jenis musis, saya paling salut dengan solois. Mengapa solois, disaat mungkin banyak orang mengidolakan band? Menurut saya untuk menjadi solois dibutuhkan bukan hanya sekedar talenta, tapi juga keberanian, keberanian yang besar. Bayangkan jika band sedang berada di sebuah pertunjukan, maka sang vocalis, meski menjadi pusat perhatian, namun dapat berbagi tugas itu dengan anggota band yang lain. Fokus kamera pun tidak akan selalu menyoroti dia. Berbeda dengan solois. Yang mereka jual adalah mereka sendiri. Meskipun mereka diiringi oleh orkestra dengan ratusan pemain, sorot lampu panggung hanya milik dia seorang. Dan percayalah, berdiri di ratusan, bahkan ribuan orang, selama beberapa menit hingga hitungan jam bukanlah hal yang mudah. Dalam hal ini, bukannya saya tidak menyukai band. Saya masih suka band kok. Siapa coba yang tidak suka Coldplay, atau bahkan Petertpan, namun untuk masalah playlist di Winamp, saya lebih menyukai solois, pun untuk melihat live performancenya.

Dan ketika saya sudah jatuh cinta dengan seorang solois, saya akan jatuh cinta, siapapun dia...

Jadi, pertemuan saya dengan Sheila Majid pertama kali terjadi jauh sebelum saya tahu musik secara dalam. Ketika saya masih berada di Sekolah Dasar, ibu saya memiliki sebuah VCD Karaoke, dan salah satu lagu di dalamnya adalah Cinta Jangan Kau Pergi. Lagu itu, menurut saya, adalah salah satu ballad terbaik yang pernah diciptakan dan dibawakan oleh penyanyi berbahasa Indonesia. Saat itu saya belum tahu bahwa penyanyi yang menyanyikannya adalah seorang Malaysia. Ya, Sheila Majid adalah salah satu biduan negeri jiran. Dan sesudah fenomena Cinta Jangan Kau Pergi, saya pun pernah mendengarkan Ku Mohon. Lagi-lagi saya dibuat jatuh hati. Duh, ini suaranya kok pas banget ya, ga dibuat-buat, pas semuanya.

Dan sayapun mulai menyukai alternatif musik lain, musisi lain, dan melupakn lagu dan penyanyi yang satu itu.

Lalu, ketika saya sudah mulai berkuliah dan di tempat kos saya ada koneksi internet, barulah saya mulai berkenalan dengan Sheila lagi. Saya akhirnya tahu, baha di negaranya Sheila adalah seorang peyanyi besar, telah mengeluarkan beberapa album, mendapat banyak penghargaan, dan menggelar konser yang diminati penggemarnya, hingga dia pun memperoleh gelar kebangsawanan. Saya, yang dengan uang saku khas mahasiswa, mulai mendownload musik-musiknya. Melihat videonya di Youtube. Dan akhirnya, menambahkan beliau di Fans Page Facebook saya.

Lambat laun, saya mengerti musik-musiknya. Musiknya banyak bearoma jazz, meski beberapa ada yang dapat dikategorikan pop. Namun jazz di dalam dirinya sangat kental. Jarang saya melihat penyanyi dari Malaysia yang sangat tidak terkesan nuansa Melayu di karyanya. Berbeda dengan Siti Nurhaliza yang sangat pop, mendengar Sheila serasa mendengarkan sisi lain industri musik di sana. Jika di Indonesia kita mempunyai Ruth Sahanaya, yang memang lahir dari jazz, maka Malaysia mempunyai Sheila Majid.

Saya juga melihat sisi lain dari Sheila. Keanggunan yang dimiliki penyanyi yang akrab dengan panggung megah. Dari cara dia menyapa penonton, caranya menyanyi, hingga caranya berpakaian. Dia mempunyai kelas sendiri. Yang menurut saya patut diperhitungkan. Saya juga akhirnya tahu bahwa ada albumnya yang memang digarap bersama dengan musisi Indonesia.

Dan betapa menyesalnya saya ketika tidak bisa melihat secara langsung Sheila di Java Jazz tahun ini. Sama menyesalnya saya ketika melewatkan Sang Dewi-nya Titi DJ dan Konser Untuk Negeri-nya Anggun.

Melalui Twitter, saya akhirnya mengetahui bahwa ternayat banyak juga yang mengidolakan Sheila dan hanya bisa membayangkan bagaimana penampilannya di event jazz terbesar setiap tahunnya itu. Yang akhirnya, saya menonton juga, meski hanya potongan klip yang diuploadnya di Fans Page Facebooknya. Dia masih bertaji, masih dielu-elukan, masih ditunggu-tunggu. Dan saya masih menunggu kesempatan untuk menonton pertunjukannya.

Kabarnya, Sheila akan kembali ke Indonesia entah pertengahan tahun ini atau akhir tahun ini, untuk membuat sebuah pagelaran yang menandakan 25 tahun dia di industri ini. 25 tahun dan akan terus menghitung. Masih banyak yang bisa dihasilkan, karyanya, sumbangsihnya bagi dunia musik. Mudah-mudahan saja saya diberi kesempatan kali ini. Mudah-mudahan ....

"Kau kebanggaan kita
Kau budayawan bangsa
Kaulah ..... Lagenda"

Sheila Majid - Lagenda


Gambar diambil dari sheilamajid.com

Thursday, February 25, 2010

This Is Special...

Because I didn't post about my New York journey and my Kuala Lumpur journey. But I dedicated my time, which I should dedicated it to my assignment, to write a post today.

This is the last day on my 20. When the clock tick 12 times this night, I'll be 21. For some people, 21 is a very special year, especially for men. We, finally, legally to enter some club and to get wasted, but trust me I'm not planning doing it. 21 is the time when we will start to think about our future. What we will do next, how we plan our life, stuff like this. So, for making a great planning, let's see what actually happen in a previous year for me.

My 20 started with a great surprise from my friends. They bought me 3 cakes, which one of them ended in my clothes, with cartoons on it. Imagine when you're 20 and you're birthday cake was Baby Mickey, Little Mermaid, and Hello Kitty. They actually didn't communicate with me in a day to make me surprise. And for you who dedicated the day for me, I only can thank a lot for everything you've done. And also it remember me how I have friends, no matter how hard my life is. Love you all, and hope the friendship will be forever.

Don't forget to mention about the NY trip last year. One of a hell trip that I've done. My first time overseas and it was right to the center of the universe. Well, since the song from Alicia Keys and Jay-Z wasn't release yet, so I can't sing my lung out to that song. And New York was an inspirational destination, and also a very great lesson in life. The best part of all, stay in our Permanent Representative office for the journey and take a picture with the minister-to-be-but-now-he-is Mr. Marty Natalegawa. I will print the photo soon, and hang it on my room.

The next great thing that happen last year is Symphonesia. The first event that I was one of the busiest people for it. Those late night meeting, exhausted journey, arguments, coffees, ideas, skipping classes was paid off in the great 2 days events. I miss it so much!!!!

And last, when it comes to my last week of 20, I went to Malaysia for the 1st ASLI 2010. It was a very great journey. The committee, new friends, new experience, and all is great.

So, in this last hours in my 20, I thank God for all You gave me this year. I hope that the next year will be great.



David

Monday, January 11, 2010

Saya, 24 Jam Terakhir

Dimulai dari jam 6 AM, 10 Januari 2010

  • 6 A.M -- Masih tidur
  • 7 A.M -- Bangun, ngulet-ngulet, morning ritual, bikin kopi, online
  • 8 A.M -- Masih online
  • 9 A.M -- Gabut ga jelas, mati lampu, beresin kamar
  • 10 A.M -- Lampu nyala, laper, bikin oatmeal, online lagi
  • 11 A.M -- Onlineeee terus
  • 12 A.M -- Mulai laper
  • 1 P.M -- Males keluar cari makan, secara belum mandi, online sambil baca novel
  • 2 P.M -- Tambah laper, sms delivery, sadar pulsa abis, ga ada yang buka tukang pulsanya, sms nyokap
  • 3 P.M -- Makanan dateng, kenyang, mandi deh
  • 4 P.M -- Ke Gheo
  • 5 P.M -- Bergossip, hahahihi
  • 6 P.M -- Liat video-video di laptop Gheo, Iffa ngenet
  • 7 P.M -- Laper, pesen nasi goreng mas coy
  • 8 P.M -- Pulang Kosan
  • 9 P.M -- Niat mau tidur, ga bisa tidur
  • 10 P.M -- Nonton The Island di Trans
  • 11 P.M -- Baru selesai, masuk kamar, nyalain laptop
  • 12 P.M -- Mulai nyadar kalo insomnia
  • 1 A.M -- Ngirim wall FB, bikin koneksi di LinkedIn
  • 2 A.M -- Browsing summer program
  • 3 A.M -- Browsing summer program, tapi mulai realistis
  • 4 A.M -- Mulai cape cari beasiswa, ngeadd anak UNYA di FB, liat-liat foto, semakin pengen ke luar lagi
  • 5 A.M -- Kangen SYMPHONESIA, googling
  • 6 A.M -- Update blog
Edan, edan tenan. Hidup gue sangat sangat sangat tidak produktif ya 24 jam ini. Dan sekarang udah mulai ngantuuuuk aja.

Tidur enak nih kayaknya.




David
Pikiran-Perut-Tenaga-setengahsadar

Sunday, January 10, 2010

When It Comes to An End

Terkadang, perpisahan bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Bahkan bagi saya, perpisahan selalu menjadi sebuah hal yang sangat menyedihkan. Masih teringat bagaimana saya harus berpisah dengan Bandung dan pindah ke Pekalongan, beberapa tahun yang lalu. Atau momen-momen kepindahan saya ke Bandung (lagi) untuk kuliah. Semuanya mengharukan dan menjadi dua titik dalam hidup saya. Titik perpisahan dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharian dan juga titik awal sebuah babak baru.

9 November lalu, saya mengalami lagi perpisahan. Perpisahan pada suatu hal yang telah saya dan teman-teman perjuangkan sejak tujuh bulan sebelumnya. Perpisahan saya dengan SYMPHONESIA 2009.

Sesuai dengan rencana, SYMPHONESIA 2009 diselenggarakan pada 8 dan 9 November 2009 di 3 lokasi yang berbeda. Ruang Maluku Hotel Grand Aquilla, Jalanan dari Dipati Ukur hingga depan Gedung Sate, dan (sekali lagi) Sasana Budaya Ganesha menjadi tempat perpisahan itu, seklaigus tempat pembuktian...

... bahwa dengan segala rintangan yang ada, kami berhasil mewujudkan SYMPHONESIA 2009.

Ya, dimulai dengan pencalonan Ketua SYMPHONESIA 2009, yang akhirnya menjadikan Adya Widyadhana menjadi salah satu mahasiswa tersibuk selama setenga tahun kebelakang. Dan dimulailah fase-fase diskusi hingga tengah malam untuk menentukan tema dan lain-lainnya. Setelah memilih tema ASEAN untuk tahun ini, sata pun ditunjuk sebagai Program Director atau Koordinator Acara. Believe me, ini pertama kalinya saya menjadi koordinator untuk sebuah acara yang skalanya ASEAN, dan saya terima tugas ini sebagai sebuah tantangan dan arena pembelajaran bagi saya. Tentu saja, banyak hal yang dapat saya pelajari dengan bergabung dalam kepanitiaan saya kali ini. Selain belajar bagaimana membuat sebuah event, pelajaran lain pun akan saya dapatkan seperti bagaimana menghadapi orang, bagaimana menghandle krisis, bagaimana bernegosiasi, hingga bagaimana menerima pendapat, kesalahan, hingga prestasi. Sebuah pembelajaran yang mungkin tidak saya dapatkan di kelas dan di tempat lain.

Jadi, mulailah saya dengan tugas baru itu. Memilih tim yang pas untuk poduksi kreatif acara ini ternyata susah susah gampang. Ada banyak hal yang perlu saya pertimbangkan. Ada banyak orang yang masuk kualifikasi dan banyak pula yang hanya sekadar mencari eksistensi. Memilih teman untuk bekerja dengan saya, yang akan membantu saya, memberikan input, hingga mengingatkan saya, itulah yang paling sulit. Ada beberapa yang memang saya sudah tahu bagaimana reputasi dia dan untuk itu saya minta secara pribadi untuk bergabung. Ada beberapa yang saya sudah dengar kemampuannya, namun secara personal saya tidak tahu. Ada yang secara personal sudah saya kenal, tapi tidak tahu bagaimana dia bekerja. Ada yang tidak saya kenal, baik secara personal dan profesional. Setelah serangkaian seleksi, tarik ulur dengan divisi lain, hingga perenungan saya sendiri, saya memilih 20 orang untuk mewujudkan acara ini.

Saya kemudian membagi 20 orang tersebut menjadi 4 tim sesuai dengan rangkaian acara tahun ini. Mungkin banyak teman-teman yang ingin sekali bekerja di konser. Trust me, it have all the strees that might make you wanna cry, beside the opportunity to work in a show business. Sayangnya, saya sudah memutuskan untuk membuat tim konser seminim mungkin dengan harapan maksi. Saya tidak memprioritaskan satu acara dengan acara lainnya, karena menurut saya, SYMPHONESIA adalah kesatuan. Semua acara punya tantangan tersendiri, spesialisasinya tersendiri. Dan inilah misi saya dari awal, bahwa SYMPHONESIA akan dikenang sebagai multievent tersebesar di Bandung, atau bahkan di Indonesia nantinya, bukan hanya pagelaran musik saja. Ya, memotivasi teman-teman yang tidak bekerja di konser juga merupakan fokus saya. Saya juga berusaha untuk memberikan perhatian lebih pada mata acara lain. Yang saya inginkan adalah dimanapun teman-teman ditempatkan, mereka akan memberikan yang terbaik untuk acara ini.

Setelah memiliki tim yang saya rasa cukup handal untuk mewujudkan apa yang kita semua inginkan, mulailah bulan-bulan penuh kerjaan. Sebagai salah satu divisi yang ada di bawah teknis, memang pada bulan-bulan awal belum terasa sibuknya. Yang kami lakukan hanya mendeskripsikan acara, melihat peluang pengisi acara, muali mengontak dan lain-lain. Namun mulai bulan Agustus lah kami ini menjadi manusia-manusia sibuk. Mulai dari mengontak artis untuk konser, memikirkan jalur karnaval, mengontak tenant makanan dan minuman, mengontak Deplu, bersiap dengan teman-teman ASEAN, dan lainnya. Puncaknnya tentu saja hitungan mundur acara di satu bulan terakhir. Saat ini lah saya diuji, mulai dari artis yang tidak jadi tampil, pihak Deplu yang sedang sibuk, beberapa perwakilan ASEAN yang tidak bisa hadir, sampai hal-hal lainnya yang membuat saya berpikir bahwa I'm not the right man in the right place. Tekanan sebagai koordinator mulai dirasakan. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah mengerjakan apa yang saya bisa saya berikan semaksimal mungkin dan diam.

Hari H pun tidak luput dari seribusatu detail yang tidak terpikirkan. Mulai dari tidak ada penyambutan di Gedung Sate, ada yang batal mengisi stand, hingga terlambat masuknya sound dan ligting dan kesalahpahaman di sound chechk. Duh duh duh, rasanya saya ingin langsung tanggal 10 November saja, ketika semua nya sudah selesai. Namun ini lah tantangannya, tantangan untuk semua panitia. Bagaimana dalam waktu yang singkat, dengan emosi yang sudah cukup sangat tinggi, harus tetap berpikir jernih dan juga menyelesaikan masalah yang ada.

Puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, karena selama dua hari tersebut kami diberikan limpahan anugerah dan kesabaran serta kekuatan yang melimpah. Tidak pernah saya pikirkan bahwa saya akan menjadi orang di garda depan untuk sesuatu sebesar ini. Kecemasan seratus persen saya mulai hilang berangsur-angsur ketika seminar ditutup oleh moderator. Ketika romobongan karnaval berangsur-angsur meninggalkan gedung sate. Ketika saya melihat stand-stand dari negara ASEAN mulai terisi. Hingga akhirnya benar-benar lega ketika Glenn Freddly turun panggung. Sebuah pengalaman yang sangat membanggakan, memberikan banyak pelajaran, dan menginspirasi.

Dan akhirnya, perasaan sedih pun menghampiri ketika saya melangkahkan kaki keluar Sasana Budaya Ganesha pada tanggal 9 November tengah malam. Saya akan berpisah dengan pengalaman yang luar biasa. Ibaratnya, saya dan teman-teman adalah orang tua dari SYMPHONESIA 2009 dan dia telah lahir, dan sekarang kami membiarkannya untuk tumbuh dan berkembang. Ya, malam itu perasaan saya campur aduk. Sedih, senang, bangga, haru. Tapi, apapun yang telah kami lakukan, kami anggap itu sebagai prestasi tersendiri.

Terimakashi untuk semua yang terlibat. Tanpa kalian, ini hanyalah mimpi orang-orang di tengah malam di kosan Widhi.

Sekali lagi, terima kasih.





David

GLOBAL FASHION INVASION

GLOBAL FASHION INVASION
The World Fashion Industry and How Globalization Take A Part of It

Oleh : Muhammad David (170210070005)


Pendahuluan

Globalisasi, seperti yang telah banyak diketahui masyarakat, adalah sebuah idiom yang digunakan untuk menjelaskan fenomena dunia tanpa batas, the world without borders. Disebut sebagai fenomena dunia tanpa batas karena dengan adanya globalisasi batas-batas geografis, atau bisa juga dimaknai sebagai negara, bukan lagi menjadi penghalang akan aktivitas-aktivitas perpindahan manusia, barang, jasa, informasi, modal, bahkan pengetahuan. Perpindahan-perpindahan tersebut telah didukung dengan kemajuan teknologi yang memudahkan teknis bergeraknya hal-hal tersebut dan adanya penyesuaian-penyesuaian peraturan yang dibuat oleh negara sehinggan perpindahan tersebut dapat dilakukan dengan sangat cepat dan dengan biaya yang sangat minim. Salah satu bukti nyata dari adanya fenomena globalisasi adalah adanya arus informasi dengan akses yang cepat dan biaya yang terjangkau. Dengan didukung oleh kemajuan teknlogi, seperti internet, maka komunikasi yang melewati batas-batas negara pun dapat dilakukan dengan sangat cepat. Tentu saja, implikasi yang didapatkan dari adanya komunikasi internasional dari internet sangatlah luas. Komunkasi yang terjalin bukan hanya komunikasi yang dimaknai sebagai pertukaran informasi antara dua individu atau kelopmpok melalui proses-proses pengiriman dan penerimaan berita saja. Komunikasi juga, baik disadari atau tidak, telah mendukung berkembangnya aktivitas-aktivitas perdagangan dunia. Ditemukannya metode jual beli dengan perantara internet, seperti penggunan situs sebagai tempat jal beli hingga penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran elektronik, telah mendorong adanya transaksi-transaksi perdagangan lintas negara, baik transaksi tersebut dalam bentuk retail atau transaksi ekspor impor. Selain sebagai media perdagangan, internet juga berperan dalam mengirimkan berita tentang apa saja yang sedang terjadi di negara lain hingga memuat apa saja yang sedang digandrungi oleh masayarakat di negara lain.

Salah satu contoh industri yang berkembang dengan adanya teknologi internet adalah industri fashion. Industri yang bisa dikelompokan ke dalam industri kreatif ini tentu saja menikmati adanya inyternet untuk mengembangkan industri tersebut. Setelah internet menjadi bagian dari kehidupan masayarakat dunia maka industri ini pun memanfaatkan kecanggihan internet dengan adanya situs-situs yang dapat digunakan sebagai sarana jual beli. Ketika dahulu seseorang harus datang ke department strore, butik, hingga flagship store untuk mendapatkan barang-barang yang dia inginkan, maka saat ini seseorang hanya membutuhkan koneksi internet, serta tentu saja kartu kredit sebagai alat pembayaran, untuk melakukan transasksi jual beli. Kegiatan inipun dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, tentu saja dengan keuntungan bahwa transakasi seperti ini sangatlah efektetif dan efisien. Tentu saja hal ini didukung oleh fakta bahwa semakin banyak orang yang terhubung dengan internet dalam kehidupan sehari-harinya. Tentu saja banyak penyesuaian yang dilakukan oleh pelaku industri untuk menggunakan fasilitas internet ini, seperti membuat sistem pengiriman yang cepat dan aman hingga memastikan bahwa transaksi kartu kredit di situs tersebut aman dari aktivitas-aktivitas hacker.

Selain untuk transaksi jual beli, industri fashion juga memanfaatkan tekonologi internet untuk memberikan referensi tentang perkembangan dunia mode. Dalam situs-situs perancang dunia, mereka menyertakan panduan gaya untuk musim kedepan, referensi pakaian, hingga katalog untuk koleksi-koleksi lama mereka. Ketika dulu seseorang harus terbang ke pusat-pusat mode dunia, seperti New York atau Paris, untuk bisa melihat koleksi terbaru atau yang akan datang dari sebuah rumah mode, maka saat ini hanya dengan mengakses internet, membuka situs, dan menikmati sajian paling hangat dari pusat-pusat mode dunia. Selain digunakan oleh perancang dan rumah mode, internet juga menjadi sarana bagi pendukung industri fashion lainnya. Salah satu contohnya adalah ¬blog, sebuah situs internet pribadi, yang dimiliki oleh kritikus hingga peminat fashion lainnya. Internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari industri fashion dunia.

Jika internet mampu meningkatkan volume perdagangan dari industri tersebut serta memberikan alternatif lain bagi para fashionista untuk mengikuti perkembangan industri fashion, lalu bagaimana dengan keadaan industri tersebut sebelum era kejayaan internet? Lalu apakah bergeraknya industri fashion hanya berpengaruh bagi perdagangan dan arus informasi semata? Bagaimana dengan budaya dan identitas masayarakat? Apakah industri fashion semakin jaya di era globalisasi ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sekiranya ingin penulis coba jawab dalam essay yang singkat ini.

Sejarah Singkat Industri Fashion Dunia

Pertama-tama, untuk memahami bagaimana industri ini tumbuh di masayarakat, marilah kita lihat sejarah singkat dari industri fashion dunia. Banyak orang yang berpikir bahwa industri ini berkembang sejak adanya Revolusi Industri di Inggris. Ada juga yang berpendapat bahwa industri ini baru ada setelah dunia menjadi seperti saat ini. Namun, jika kita teliti lebih dalam maka kita dapat memahami bahwa industri ini telah ada jauh sebelum rumah mode dunia melakukan ekspansi industrinya. Dalam sebuah artikel di majalah Vanity Fair, sebauh potret dari Marie Antoinette yang dilukis oleh Vigee-Leburn memperlihatkan beliau dengan sebuah gaun rancangan Rose Bertin. Potret tersebut diproduksi pada tahun 1783. Jauh sebelum itu, cikal bakal industri ini telah ada melalui adanya perdagangan kain dan pakaian jadi. Sebagai bahan pembuatan pakaian, kain menjadi salah satu komoditas perdagangan yang cukup menjanjikan. Sebagai salah satu aksi nyata dari perkembangan industri tersebut, maka Pemerintah Perancis membuat sebuah badan untuk mengurusi industri ini yaitu Chambre Syndicale de la Haute Couture Parisienne, yang berarti Serikat Dagang Adibusana Paris pada tahun 1868. Pada saat itu, yang tergabung dalam serikat dagang tersebut hanyalah perancang yang membuat rancangan adibusana atau haute couture. Haute couture adalah sebuah istilah yang digunakan bagi sebuah rancangan yang dikerjakan oleh tangan (hand made and hand-finished) yang disesuaikan dengan ukuran asli dari konsumennya. Penggunaan mesin jahit sangat tidak diperbolehkan dalam rancangan jenis ini.

Seiring dengan berkembangnya industri, di mana perancang dan rumah mode tidak hanya dimiliki oleh Perancis saja, maka pada tahun 1973 Pemerintah Perancis mengembangkang serikat dagang tersebut menjadi Fédération Française de la Couture, du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai French Federation of Fashion and of Ready-to-Wear of Couturiers and Fashion Designers. Meskipun federasi ini berada di Perancis serta berasa di bawah Departemen Perdagangan Perancis, namun pengaruh serikat dagang ini dapat dirasakan di seluruh dunia. Melalui badan inilah standarisasi industri fashion dibentuk. Menurut aturan yang ada, perancang adibusana adalah seseorang yang membuat rancangan yang dikerjakan oleh dengan tangan dalam sebuah tempat yang mempekerjakan setidaknya dua puluh orang di Paris, Perancis. Dalam satu tahun, seorang perancang adibusana setidaknya harus menampilkan dua puluh lima rancangan dalam dua kali peragaan pada bulan Januari dan Juli, dalam dunia fashion saat ini pagelaran tersbut sering dikenal dengan nama Fashion Week. Selain itu, dalam proses pengerjaannya, perancang tersebut harus menggukan ukuran asli konsumen, bukan standar ukuran baju pada umumnya, dan melakukan serangkaian fitting sebelum karyanya ditampilkan. Dari sekitar dua ratus orang anggotanya sebelum Perang Dunia II, saat ini hanya tinggal sebelas orang yang masih aktif menampilkan karyanya dan hanya dua orang berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi anggota serikat dagang tersebut, Maibocher (telah pesiun pada tahun 1971) dan Ralph Rucci. Setelah lima tahun dan sepuluh set koleksi, barulah seorang calon anggota mendapatkan keanggotaan penuh dan dapat menyandang predikat sebagai Haute Coutier.

Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa dalam sistem tersebut, seorang perancang hanya boleh memperlihatkan rancangannya di ‘rumah mode’nya sendiri dalam sebuah private function. Lalu, bagaimana mungkin seorang masayarakat biasa, dengan kemampuan finasial pada umumnya, dapat menikmati rancangan tersebut? Hal itu diatasi dengan oleh para pemilik pusat perbelanjaan besar seperti Harrods dan Neiman Marcus dengan cara membeli hak untuk mereproduksi rancangan menjadi koleksi ready-to-wear dan menjualnya dengan harga yang tentu saja di bawah standar rumah mode. Permasalahan pun tidak selesai sampai di sini. Perangcang tentu saja menginginkan bahwa dirinya dapat menjual rancangannya sendiri. Maka, terobosan pun diambil oleh Yves Saint Laurent, seorang perangcang asal Paris, Perancis yang saat ini namanya menjadi salah satu nama rumah mode besar dunia, pada tahun 1966 dengan membuat koleksi siap pakai pertamanya. Maka, pada tahun 1973 serikat dagang pun merestrukturisasi lembaganya menjadi Fédération Française de la Couture, du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode dan membaginya menjadi tiga badan khusus yaitu, Chambre Syndicale de la Haute Couture untuk perancang adibusana, Chambre Syndicale de la Mode Masculine untuk perancang pakaian siap pakai bagi pria, dan Chambre Syndicale du Prêt-à-porter des Couturiers et des Créateurs de Mode bagi perancang pakaian siap pakai bagi wanita. Dengan restukturisasi tersebut, maka seorang perancang dapat menyebut dirinya perancang mode meskipun dirinya tidak membuat koleksi adibusana. Hal ini tentu saja memperkuat industri fashion karena fashion saat ini dapat dimaknai sebagai hasil rancangan, bukan hanya rancangan adibusana, sehingga perancang dapat membuka gerai pakaian siap pakainya di seluruh dunia dan merubah gaya hidup masyarakat dunia.

Apa Sebenarnya Fashion Itu ?

Meskipun telah banyak masyarakat yang menggunakan idiom fashion dalam kehidupan sehari-hari, namun banyak juga yang masih belum mengetahui apa fashion itu sebenarnya. Apakah hal tersebut termasuk seni atau merupakan bagian dari kebudayaan masayarakat? Hal ini sebenarnya telah banyak diperdebatkan, baik oleh para penggiat industri, penikmat fashion hingga masyarakat biasa. Tentu saja tidak ada yang salah dari pendapat-pendapat tersebut. Sekarang, mari kita menganalisis apa fashion itu sebenarnya.

Pertama-tama, fashion sebagai seni. Seni sendiri dapat diartikan sebagai hasil dari hasil atau proses cipta manusia yang memiliki nilai estetika yang tinggi dan menggandung unsure emosional dari yang membuatnya. Dalam proses berkeseniannya, seorang seniman dapat menggunakan media apapun untuk mengekspresikan dirinya. Lukisan, patung, musik, dan tari serta sastra adalah media yang sering digunakan oleh para seniman tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, serta diiringi dengan penemuan-penemuan media-media lainnya melalui teknologi, media seni pun berkembang. Film hingga seni dengan menggunakan media campuran telah menjadi bagian dari seni masa kini. Fashion sebenarnya didasarkan pada seni gambar. Sketsa rancangan yang digambarkan di atas kertas kemudian di wujudkan dalam bentuk aslinya. Pada mulanya, para perancang busana berkarya untuk para keluarga kerajaan serta untuk pementasan teater. Oleh karena itu, jika kita lihat rancangan mulai zaman Marie Antoinette yang kita lihat adalah rancangan dengan detail rumit dan tidak mungkin dibayangkan untuk digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Seiring berevolusinya fashion menjadi sebuah industri, saat ini bentuk seni rancang dapat dilihat dalam karya adibusana. Rancangan adibusana, meskipun juga dikomersilkan, namun tetap dianggap sebagai sebuah bentuk karya seni. Dalam rancangan jenis tersebut, idealisme perancang dapat terlihat jelas dan setiap perancang mempunyai ciri khasnya masing-masing. Contohnya, Jean Paul Gaultier yang selalu tampil dengan kesan feminine dan berani atau Givenchy yang tampil dengan gaya elegan.

Kedua, fashion ebagai bagian dari kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan hasil pemikiran manusia yang telah dirangkum dalam waktu yang panjang. Budaya berakar dari kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Salah satunya adalah pakaian sebagai perlindungan tubuh dari cuaca. Pakaian, dalam beberapa kebudayaan, juga berfungsi sebagai simbol kesopanan hingga simbol status bagi seseorang. Sebagai pertahanan terhadap cuaca, masyarakat di penjuru dunia memiliki tradisi tersendiri yang diseuaikan dengan keadaan iklim di mana masyarakat tersebut tinggal. Bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan empat musim sepanjang tahunnya, maka paling tidak masyarakat membutuhkan dua jenis pakaian, pakaian untuk musim panas/semi dan pakaian untuk musim dingin/gugur. Bagi masyarakat yang tinggal di dareh tropis maka pakaian yang dibuthkan adalah pakaian yang tidak terlalu tebal karena matahari bersinar sepanjang tahun dan beberapa jenis pakaian tambahan yang dibutuhkan selama hujan tiba. Pada zaman dahulu, pakaian dibuat sendiri oleh pemakainya, namun seiring berubahnya zaman, masyarakat pun memilih untuk membeli pakaian yang sudah jadi. Pakaian juga dapat menjadi simbol status dari seseorang. Dalam kebudayaan Jawa misalnya, terdapat beberapa jenis motif batik yang memang dikhusukan untuk keluarga Keraton. Rakyat biasa tidak diperbolehkan untuk memakainya. Keadaan-keadaan tersebutlah yang akhirnya menjadi permintaan bagi industri fashion. Pakaian siap pakai menjadi salah satu produk industri yang sangat menjanjikan. Meskipun tidak semua masyarakat akan mengganti seluruh wardrobe nya dalam kurun waktu tertentu, namun dengan status pakaian sebagai salah satu kebutuhan pokok masayarakat, pemintaan pasar akan tetap ada.

Ketika fashion diartikan sebagai rancangan haute couture, maka sebenarnya kita sedang membicarakan fashion sebagai sebuah seni. Namun, ketika fashion diartikan sebagai rancangan siap pakai, maka kita sedang berbicara fashion sebagai sebuah budaya masyarakat. Tentu saja, fashion merupakan salah satu bentuk dari industri kreatif, di mana industri tersebut sangat bergantung dengan kreatifitas para seniman. Pada akhirnya, industri fashion saat ini telah menjadi salah satu industri yang telah mendunia.

World Fashion Industry

Seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya bahwa fashion telah menjadi sebuah industri dan tentu saja industri tersebut sangat menjanjikan. Masyarakat saat ini telah menjadi masyarakat yang sangat konsumtif terhadap produk-produk fashion, baik pakaian maupun aksesorisnya. Beberapa produk fashion pun telah menjadi barang mewah dan hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja, mengingat harganya yang sangat tinggi. Industri ini tentu saja dimotori oleh banyak munculnya rumah mode dunia, baik yang hanya membawahi satu merek dagang tertentu, membawahi beberapa merek dagang hasil karya satu perancag, hingga sindikasi dagang yang membawahi banyak merek dagang dan menjdai raksasa fashion dunia. Beberapa rumah mode pun telah tercata di bursa saham dunia, contohnya New York Stock Exchange, dan mempunyai nilai saham yang terbilang tinggi. Tentu saja, dengan berubahnya makna fashion, yang bukan hanya menjadi seni atau kebutuhan, tetapi juga menjadi industri, menjadikan fashion juga bergantung pada keadaan ekonomi yang sedang dihadapi masayarakat. Krisis moneter atau adanya bencana atau perang menjadi salah satu faktor naik turunnya nilai penjualan tahunan industri ini. Dalam artikelnya di majalah Vanity Fair edisi September 2009, Amy Fine Collins mengutip dari artikel The New York Times pada tahun 1965 bahwa setiap 10 tahun sekali tanda-tanda kematian industri ini datang. Hal ini jelas menunjukan bagaimana industri ini mengalami pasang surut dan dimungkinkan untuk hancur. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa industri ini masih dapat bertahan hingga saat ini.

Pada awal mula industri ini berkembang di Paris, mungkin tidak pernah terbayangkan bahwa fashion akan menjadi salah satu industri yang mendunia. Seiring dengan berjalannya waktu, industri ini telah hadir di hampir seluruh pelosok dunia. Dari pusatnya di benua Eropa hingga Asia. Dari Amerika melintasi Afrika hingga kawasan Timur Tengah. Industri fashion telah menjadi salah satu industri kreatif yang maju sejalan dengan inustri film dan industri music. Lalu bagaimana mungkin industri ini mendunia? Jawabannya adalah melalui sistem perdagangan dunia. Pada bagian pendahuluan, penulis telah menjelaskan bagaimana industri-industri sangat terbantu dengan adanya penemuan teknologi di bidang informasi dan telekomunikasi serta di bidang transportasi. Melalui teknologi transportasi, produk-produk fashion dikirim ke berbagai belahan dunia. Mungkin kita masih ingat bagaimana dahulu kala para pedagang datang menggunakan kapal dan melakukan transaksi jual beli di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya. Jalur Sutera juga dilatarbelakangi oleh pencarian akan sutera sebagai bahan untuk membuat pakaian. Itulah cikal bakal perdagangan produk fashion. Saat ini, pengiriman masih dilakukan dengan kapal, juga dengan pesawat terbang, namun dengan teknologi dan kuantitas yang lebih besar dan lebih canggih. Sebuah karya Chanel dapat dikirim ke Indonesia melalui proses shipping. Kedua adalah adanya penemuan di bidang teknologi komunikasi. Mungkin kita harus berterima kasih pada jaringan global, internet. Melalu internet, rumah mode dunia dapat mempromisikan koleksi terbaru mereka serta melakukan transaksi penjualan via internet.

Lalu, apakah industri fashion berdiri sendiri? Tentu saja tidak. Banyak industri-industri lain yang mendukung keberlangsungannya industri ini. Beberapa diantaranya adalah indusrti telekomunikasi, industri perhubungan, media, serta industri retail. Industri telekomunikasi berperan dalam hal menyebarluaskan adanya industri ini serta menjadi perantara antara konsumen dan produsen. Industri perhubungan dibutuhkan sehubungan bahwa produksi fashion masih berpusat di beberapa kota di dunia. Kedua industri tersebut, industri telekomunikasi dan perhubungan, telah dijelaskan sebelumnya. Dua industri lainnya yang mendukung industri ini adalah industri media dan retail. Seperti kita telah sama-sama ketahui, media mempunyai pengaruh kuat bagi masyarakat. Media membentuk opini publik serta membawa perubahan bagi masayarakat. Industri media saat ini sangat fokus pada industri fashion. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa majalah yang memang ditujukan untuk membahas tentang bentuk seni yang satu ini. Elle, Vouge, Harper’s Bazzar, Vanity Fair, L’uomo Vouge, QC, dan Folio adalah sedikit dari banyak majalah jenis tersebut. Kebanyakan majalah tersebut berasal dari Amerika Serikat atau Eropa. Namun, majalah tersebut juga hadir dalam versi lokal, di mana konten utamanya sama dengan versi internasionalnya dan disisipi konten lokal. Terkadang, jika sebuat item fashion ditampilkan di majalah, maka dapat dipastikan bahwa item tersebut akan menjadi tren. Selain media, inndustri ritel juga mendukung bergeraknya industri fashion . Ritel adalah sebuah perusahaan dagang yang melayani pembelian eceran. Mungkin sebuah rumah mode menganggap bahwa pemukaan sebuat flagship store atau independent store di sebuah wilayah tidak akan memberikan keuntungan atau bahkan akan merugi, namum rumah mode terebut juga dihadapkan bahwa ada pasar konsumen potensial di sana, maka retail adalah solusinya. Retail hadir dalam bentuk pusat perbelanjaan, di mana kita dapat menemukan banyak merek dagang hanya dengan mengunjungi satu tempat saja. Di Indonesia, retail hadir dengan nama Metro atau Debehams.

Globalisasi dan Fashion

Di mana sebenarnya letak irisan antara globalisasi dan fashion? Mungkin masyarakat masih mengasosiasikan globalisasi dengan isu-isu high politics. Mungkin juga masyarakat masih mengasosiasikan globalisasi dengan isu-isu low politics. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat bahwa globalisasi dan fashion berhubungan. Hubungan fashion dan globalisasi dibangun ketika kita berbicara bahwa dengan adanya globalisasi, fashion menjadi sesuatu yang global. Hal ini tentu saja mempengaruhi beberapa hal. Pertama adalah budaya berpakaian masyarakat. Pernahkah anda bayangkan jika Coco Chanel tidak merancang blazer dengan celana panjang bagi wanita maka kita tidak pernah bisa melihat Hillary Clinton, Secretary of State Amerika Serikat, menggunakannya dan menjadi cirri khasnya. Pernahkah anda banyangkan jika Audrey Hepburn tidak menggunakan blus hitam tidak berlengan rancangan Givenchy dalam Breakfast at Tiffany’s mungkin blus hitam hanya akan digunakan di pemakaman. Atau jika Burberry tidak mendesain mantel panjang dengan berbagai model. Hal itulah yang mrubah cara seseorang berpakaian. Fashion memberikan alternatif lain pada budaya yang sudah ada serta memberikan identitas baru pada seseorang. Tentu saja hal ini dapat terjadi karena adanya arus informasi yang sangat cepat yang merupakan salah satu bagian dari proses gloalisasi. Hubungan kedua dapat kita lihat dari sisi perdagangan. Dengan adanya globalisasi yang memudahkan mobilisasi arus barang. Mungkin kita tidak dapat melihat butik Louis Vuitton di Plaza Indonesia jika tidak ditemukan moda transportasi yang dapat membawa produk tersebut dari Paris. Dua hal tersebut jelas menjelaskan bagaimana fashion sangat erat kaitannya dengan globalisasi dab globalisasi menjadikan industri tersebut dalam posisinya saat ini.

Global Fashion Invasion : Penutup

Ya, disadari atau tidak, menerima atau tidak, serangan fashion global telah menjadi bagian dari keseharian kita. Prada, Armani, Versace, Dior, Hugo Boss, Jimmy Choo, Sak’s, Neiman Marcus, Debenhams, Tifanny’s, Louis Vuitton bahkan Nike dan Puma bukanlah hal yang asing bagi kita. Bagaimana kita menyikapinya, apakah kita akan terseret dalam arus utama fashion dunia atau hanya menjadi penonton masyarakat yang menggunakannya, akan kembali pada diri kita masing-masing. Silakan anda menyikapinya dan jadilah bijak dengan pilihan anda.


Referensi

Collins, Amy Fine. 2009. Toujuors Couture. Dalam Vanity Fair edisi September 2009. New York : Conde Nast Publications


P.S. Ini tugas akhir saya untuk mata kuliah Globalisasi : Isu dan Kontroversi. Rada sedikit beda emang dibanding dengan bahasa lainnya. Oh ya, silahkan memberikan pendapat ya.

Saturday, October 10, 2009

Tadi Malam, di Malam Pemilihan Puteri Indonesia 2009

Saya ingat kalo saya sempat bikin postingan tentang Pemilihan Puteri Indonesia, kalo ga salah 2007 deh, waktu Putri Raemawasti yang menang. Saat itu, saya membahas produksinya, yang mana pas itu pindah stasiun TV, and I think that the 2007 pageant was improved compare to the previous year.

Malam ini, saya nonton lagi pemilihannya. Sekarang, sejak 2008 sudah pindah lagi ke stasiun tv yang sejak come backnya PI menjadi tempat disiarkannya tiga pageant besar, Miss Universe, Miss USA, Miss Teen USA, bahkan sempat Miss World pula. Saya tidak ingin membahas produksinya, karena ya sudahlah, saya rasa yang terbaik adalah tahun 2001 saat kembalinya PI di Indonesia. Meskipun ada perbaikan, sudahlah saya tidak akan membahas produksi.

Yang menarik adalah kontestannya. Tahun ini saya rasa yang terbaik. Beauty everywhere. Ada beberapa yang cantik dan tidak masuk 10 besar, persebarannya merata pula. Dan ya, banyak kejutan.

Kejutan pertama, bahwa Papua Barat dapat dua gelar. Ini sejarah, karena biasanya Puteri Atribut ya satu-satu. I know that the momment she know she got two tittle is the most emotional one. And how she handle it, it was awesome. Jadi ingat momen Zuleyka Rivera dan Stefania Fernandez, yang sama-sama berasal dari Venezuela, jejingkrakan bareng di panggung Miss Universe, hingga makhota Miss Universe yng baru....jatuh. Jadi inget juga, gimana kagetnya Nadine Chandrawinata pas first walknya dia. Momemn-momen inilah yang membuat sebuah pageant menjadi sangat emosional. Salute to you, Papua Barat.

Kedua, ini dia yang banyak dibicarakan di twitter, tentang wakil dari Nangroe Aceh Darussalam.

Saya selalu menonton Pemilihan Puteri Indonesia sejak 2001. Yup, called me weird, but I enjoyed the momemnt of the pageants. Dan seingat saya, sejak 2004, wakil Nangroe Aceh Darussalam selalu berkerudung. Hal itu dikarenakan berlakunya syariat Islam di sana, yang mengharuskan wanita untuk berkerudung. Pada tahun itu, wakil NAD juga mencatat prestasi dengan masuk menjadi Top Finalist, meskipun tidak menang, namun setidaknya menandakan bahwa dia masuk kategori 3B meskipun dia berkerudung. Saya akui dia cantik, sangat cantik. jawabannya pun selalu mengundang tepuk tangan. Ya, jika saja Puteri Indonesia tidak dikirim ke Miss Universe, saya yakin dia masuk ke bursa juara. Tahun selanjutnya bahkan ada dua finalis yang berkerudung, satu dari NAD dan satu lagi saya lupa dari mana dan saya semakin percaya bahwa Yayasan Puteri Indonesia memang membuka kesematan seluas-luasnya bagi remaja putri untuk berkompetisi. Salut saya bagi YPI dan PPI.

Tahun 2008, ada sesuatu yang janggal, bahwa NAD tidak mengirimkan wakilnya. Tahun itu saya rindu melihat seorang yang berkerudung di ajang ini. Beneran deh, wakil NAD selalu tidak mengecewakan. Saya pikir langkah ini benar juga. Setahu saya, jika tidak ada wakil yang dikirim melalui pemilihan daerah maka yang akan dikirim adalah hasil audisi YPI, termasuk Jakarta. Saya pikir YPI tahun itu tidak memaksakan untuk mengaudisi wakil provinsi itu. Entah apa alasan sebenarnya di balik ketidakhadiran wakil NAD.

Tadi malam, atau mungkin dimulau sejak beberapa hari sebelumnya, ketika saya mengunjungi situs Puteri Indonesia, saya kaget, benar-benar kaget. Bahwa wakil NAD tahun ini tidak berkerudung, seperti tahun-tahun sebelumnya. Awalnya saya sih tidak ambil pusing. Sampai pada saat malam final...

Sebagai anak kosan yang tidak mempunyai tv pribadi, jadilah saya menonton di ruang tamu. Saya juga online di twitter di saat yang bersamaan. Twitter rame banget malam tadi, dan sudah bisa ditebak topiknya ga jauh-jauh seputar Puteri Indonesia. Saya akhirnya tahu bahwa Qori, wakil NAD, dalah anak Al-Azhar dari twitter adik kelas saya. Nah, kehebohan terjadi ketika sang MC, Charles Bonar Sirait dan Dian Krishna, yang sebenarnya saya berharap akan menonton Susan Bachtiar dan Ferdy Hassan, mengeluarkan statement bahwa ada yang beda dengan wakil NAD tahun ini. Ya, semua orang tahu bahwa sudah beberapa tahun belakangan ini, wakil NAD selalu berkerudung. Dan dijawablah pertanyaan tersebut dengan, "Saya rasa rambut adalah makhota perempuan dan perempuan harus bangga memperlihatkannya". "Saya telah meminta izin ke pemerintah setempat untuk mewakili daerahnya". Hmmmm, jadi beneran udah izin sama Pemerintah Provinsi NAD?? Kok rancu ya. Saya kok ga lihat logical senses nya. Apalagi setelah saya baca twitter lagi dan tahu bahwa Qori sebenarnya tidak berkerudung di kesehariannya. Jadi, saya harus percaya yang mana ya.

Sebenarnya, dia bukan favorit utama saya. Saya menjagokan Sumatera Barat tadi malam. Pertama, she reminds me to Artika Sari Devi. Well, Artika punya kecantikan Indonesia dan dia berhasil masuk Top 15 Miss Universe. Tadi malam saya merasa melihat auranya di sana. Kedua, dia smart. Jawabannya singkat, padat, dan mengena. Terakhir, dia terlihat anggun. Sesi kebaya menjadi pembuktian bahwa dia memang terlihat anggun. Jadi ingat tahun lalu bahwa saya melihat hal yang sama di Zivana dan malam tadi saya melihat itu di dia. Sayangnya, dia hanya jadi First Runner-Up. Dan makhota Puteri Indonesia pun beralih ke Qori.

Nah, could YPI handle the controversies? First, of her being the NAD representative and not wearing veil and her answer of it? Second, the classic one, of PI wearing bikini in Miss Universe? We'll see. Dan saya harap YPI bisa mengahandlenya.

Saya tidak menyalahkan siapa-siapa dan akhirnya saya ucapkan selamat untuk Puteri Indonesia yang baru, semoga satu tahun ini anda akan menjadi banyak panutan remaja putri Indonesia.



David

Sunday, October 04, 2009

Kabar-kabar Semester 5

Ya, sekarang saya sudah semester 5, yang artinya sudah 2 tahun lebih saya menuntut ilmu di bangku kuliahan. Selama itu juga saya jauh dai keluarga, berjuang untuk hidup mandiri sebagai anak kosan, dan tentu saja belajar. Meskipun yang terakhir, sangat jarang dilakukan.

Jadi apa kabarnya semester ini?

Sepi.

Sepi karena semester ini saya hanya mengambil 11 SKS. Okey sekali lagi, 11 SKS. Saya yang biasanya mengambil 20-21 SKS tentu saja merasa sepi banget kuliahnya. Meskipun beberapa mata kuliahnya diprediksikan akan menyiksa lahir batin, fisik dan pikiran.

Semester ini saya akan berjuang untuk :

  • Analisis Kebijakan Luar Negeri (2 SKS)
  • Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (3 SKS)
  • Kejahatan Transnasional (2 SKS)
  • Globalisasi : Isu dan Kontroversi (2 SKS)
  • Gender dan Seksualitas dalam Politik Dunia (2 SKS)
Alasan mengapa saya HANYA mengambil 11 SKS adalah karena sudah banyak mata kuliah yang saya ambil di semester-semester berikutnya, sedangkan untuk mengambil ke atas, mata kuliah semester 7, banyak yang merupakan mata kuliah dengan prasyarat atau mata kulaih lanjutan. Jadi ya itu dia yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Meskipun, saya beruntung juga cuma ambil 11 SKS. Karena saya sedang bekerja dalam sebuah proyek super-mega-dahsyat-bombastis, SYMPHONESIA. Dan ga tanggung-tanggung saya adalah Program Directornya. Sehigga, sering saya dan Anggi, teman saya yang juga bekerja di SYMPHONESIA, bercanda bahwa 10 SKS lainnya adalah SYMPHONESIA.

Dengan itu, saya hanya akan ke kampus untuk kuliah pada hari Senin, Selasa, dan Kamis. Sisanya akan saya baktikan untuk SYMPHONESIA.




David



PS. Silakan kunjungi web SYMPHONESIA di www.symphonesia.com. SYMPHONESIA, Bandung's Greatest Event.

Friday, October 02, 2009

Coming Back Home

I already finish my trip to US in months. Yet, I've not write about it. Some of my friends had actually write about the trip.

But now, I just want to give my gratitude to these people, who make my dream comes true.

To my parents, who always believing in me, who always give me a huge support when I'm down, who already want to give everything, so I can be one of the world's most happy child. I love you, Ibu and Ayah. Always. I just don't know to express it.

To my family, who gave me support. Really appreciate that!

To Padjamada, (Pilar A. Paradewi, Nafisah R. Wulandari, Amalia N. Rizki, Arif A. Putra, and Yetty Grace), we are rocks, guys. For being brother and sisters to me. In sad and happy time. For our endless moment to make the trip. For a great two weeks. Though may you feel something about me, I thank God for having you, and I'm sorryfor my mistake. Thank you!

To my best, (Anggia Utami Dewi, Iffa Latifah Zulfa, Khairunisa, Nabila Nuruljah, R. Khairul Rahman, Gheo Eraldika) for always stand beside me in my hardest time. For balancing my life. For always give a a spirit when I'm down. And for those crazy moment that I miss when I'm in New York.

To Mr. Sony A. Nulhaqim and Miss Sendy Kristiani, our beloved lecturer. For supporting us in this project.

To H.E. Amb. Marty Natalegawa. Mr. Hassa Kleib, Mr. Triyogo Jatmiko, Mr. Candra W. Yudha, Mr. Febriyand Rudyard, Mr. Kunimin, and all Permanent Mission of the Republic of Indonesia to United Nations, New York. To giving us place to live. For the support. I always have a dream to coming back to PTRI NY as a diplomat.

To Jatmiko family. For a nice barbecue night and dinner. For being a new family for us. And for the supply of authentic Indomie. Hehehe.

To Mr. Rafael Setyo. Though we can't have a trip to VOA, to meet you is a great experience. And for the dinner...

To Christanita L. Karinda, Niki Unanto, M. Akbar, Bagas H. Yudo, and Pandu. R. Wicaksono. For believing our dream. Really appreciate you guys. Hope someday we can make a trip together.

To Adhya Widyadhana and Brivenery Primayuditha, the OCP and Director of Technical Department of Symphonesia. For letting me go for two weeks, and pending my works.

To all UNYA delegates from Indonesia. For being a new friends.

To all my friends in HI UNPAD. The experience is worth to share with you. Next trip will be with you guys, for our Practicum right?

And to all of you, that I'm not mention in this post. Thank you, thank you, thank you.

The experience is worth it.



David

Sunday, July 26, 2009

Big Trip


So, I'm about to leave Indonesia for a while.

This trip is a huge one. Actually, my first trip aboard. I don't know where to started the story. The day that I hear the events? The day I paid my registration fee? The day I got the Acceptance Delegate Letter? The day I arrange the travel proposal? The day I made my passport? The day I applied for my Visa? The day I was interviewed for the Visa? The day my visa still in process? The days that I called the embassy and worried about my visa? The day I try to pass my dream? The day I got my Visa? Or the days I wait for the trip?

I already love the city.

I'll spend 8 days in the city, and move to the capital for another trip.

I Love New York.

Wish me luck for the trip.



David

Thursday, June 18, 2009

Kabar Kabur Semester Empat

Sudah lama saya gak curhat masalah kehidupan akademik saya di kampus. Terakhir curhat mungkin pada saat saya nulis tentang MNC kali ya. Nah, sekarang ini semseter genap telah berakhir. Yeay, yang artinya udah empat semester saya habiskan di Jurusan Hubungan Internasional, UNPAD. Tambah satu semester alih tahun juga sih.

Ujian telah berakhir. Ga ada lagi deadline-deadline tugas. Ga lagi tidur tengah malam, bahkan menjelang pahi, dan pernah ga tidur sama sekali, buat ngerjain tugas. Ga ada lagi bangun pagi buat ngejar kelas pagi. Ya, yang sekarang saya tunggu adalah nilai-nilai dari sebelas mata kuliah yang saya ambil serta kapankah pendaftaran semester alih tahun. SAT saya gunakan buat ngambil mata kuliah ke atas ya, bukan untuk ngulang. Alhamdullilah, sampai hari ini di transkrip nilai saya hanya ada satu nilai C untuk mata kuliah Filsafat Ilmu, yang males banget diulang.

Oke, sekarang kita review aja tuk mata kuliah yang saya ambil di semester ini. Ujiannya, tugasnya, dosennya, sampe prediksi awal nilai saya.

PENGANTAR HUBUNGAN INTERNASIONAL II

Well, mahamatakuliah yang satu ini adalah rangakaian terakhir dari trilogi PIP-PHI1-PHI2 yang diampu oleh Pak Arbay. Mata kuliah ini berfokus pada isu internasional yang dikaji oleh Hubungan Internasional. Kelasnya sangat penuh, mengingat seharusnya ini mata kuliah ada di semester tiga, tapi ternyata, dengan adanya perubahan kurikulum JHI, jadilah dia di semester dua, yang artinya saya sendiri terlambat mengambil beserta 110an lebih angkatan 2007. Bayangkan 110 anak 2007 tambah 200an anak 2008 tambah yang ngulang samadengan penuhnya B.30X. Well, saya sendiri jarang masuk kuliah setelah beberapa perkuliahan. Mata kuliah, yang sesuai tradisinya, mengenal tutorial, ternyata ga ada dong semester ini. Jadilah ujian akhirnya yang lisan menjadi satu-satunya ujian terberat yang tanpa beban, nothing to lose... Dan sayapun gagal ujian akhir. Prediksi nilai C, maksimal B kalau TA saya bagus dan nilai UTS bagus....

DEMOKRASI DAN HAM

Mata kuliah yang sebelumnya ada di semester tujuh ini ternyata bergeser ke semester dua. Walhasil menghasilkan banjir mahasiswa yang lebih parah dari PHI2, karena angkatan 2005 dan 2006 banyak yang belum ngambil. Dosennya Kang Satriya. Materinya lumayan lah ya. Prediksi A, kalo apes B.

ORGANISASI INTERNASIONAL II

Dibandingkan dengan mata kuliah pendahulunya, OI1, beban kuliah OI2 semakin berat kawan-kawan. Dengan adanya tutorial yang minimal sepuluh kali, kelas debat, tugas resume setiap minggu, dan lain-lainnya, memang kelihatannya berat banget. Tapi, mata kuliah ini lah yang paling ok untuk semester empat ini. Tim pengajarnya Teh Sendy, Teh Nur, Teh Deasy, dan tutor saya, Teh Windu. Tapi beneran deh, kerasa beda banget kuliah OI2 sama kuliah mata kuliah lainnya. Terbukti bahwa tulisan saya paling bener di UAS OI2, jawaban saya paling rasional di sini, dan kertas ujiannya pas terisi. Prediksi A, ayolah, OI1 saya udah A nih... Hehe...

HUKUM INTERNAIONAL II

Mata kuliahnya Pak Hasdik ini menjadikan anak HI akan bergelar S.IPHOA. Sarjana Ilmu Politik, Hukum, Oceanografi, dan Aeronautica. Ya, kali ini kerjaan kita adalah memandangi Hukum Laut, Hukum Udara, dan Hukum Luar Angkasa. Setiap Minggu. Dengan UTS dan UAS dadakan. Juga dua makalah. Serta tugas-tugas kecil sebanyak 2-5 halaman. Yang ini udah ga diprediksi karena udah keluar, nilai saya B. Makasih banyak, Pak. Ga tau deh kalo harus ngulang lagi mata kuliah ini.

BAHASA PERANCIS II

Sempet ganti dosen dari Madame Savitri ke Madame Meumeut, karena Teh Vit nya ke Malaysia, dan ke Madame Savitri lagi. UTS saya ngulang. UAS udah pasti salah sepuluh soal. Hopeless. Alhamdulillah dapet A. Merci, madame. J'aime Francais.

EKONOMI POLITIK GLOBAL II

GeJe. Untung dapet B.

HUBUNGAN INTERNASIONAL DI AMERIKA

Kelasnya Pak Asgar, yang di bantu Pak Gilang. Seru. Deg-degan. UTS ga ikut karena telat masuk kelas, dapet tugas pengganti. Dapet A dong. Makasih Pak Asgar dan Pak Gilang.

HUBUNGAN INTERNASIONAL KAWASAN

Pak Reza nih dosennya, sayangnya saya jarang masuk. Heheheheh. Karena udah ngambil Regionalisme, jadinya rada bingung sama bahasan ini. Prediksi B, atau kalo Pak Reza baik A. Haha...

RESOLUSI KONFLIK

GeJe. Tugasnya lumayan lah ya. Kalo kuliah penuh banget. Untung dapet B.

GLOBAL GOVERNANCE

Teh Sendy yang ngajar. Materinya ngawang deh. Mata kuliah baru sih ya. Presentasi gue okey banget deh. Prediksi A, ayolah teh masa dapet B.

PERUSAHAAN MULTINASIONAL DALAM POLITIK DUNIA

Mata kuliah baru yang diampu Pak Widya sama Teh Viani. Seru. Tugasnya seru. Presentasinya seru. Prediksi A. Hehehehe..... Oh ya, saya pernah curhat mata kuliah ini kan di blog.


Nah, dengan prediksi di atas, ga tau deh IPK saya akan jadi berapa. Males ngitung dulu. Hehehhe...

Oh ya, buat SAT, rencananya saya mau ngambil HI AFRIKA, HI TIMTENG, BISIN, sama TRANS-CRIME, atau tambah KOMEDGLOB kali ya....

Sekian deh,


David