Wednesday, February 18, 2009

Multinational Coorporations dan Budaya, catatan setelah kuliah...

Gini nih jadinya kalau ternyata ngambil mata kuliah yang pas, dengan tim dosen yang yahud pula. Apa yang kita bicarakan di kelas merupakan suatu yang worth it untuk disimak dan juga diceritakan. Dan jujur, jarang banget saya ketemu kombinasi mata kuliah yang seperti ini. Makannya, saya sangat bersemangat untuk masuk kelas ini, meskipun baru mulai jam 1 siang, setalah dua mata kuliah yang sangat berat.

Namanya PERUSAHAAN MULTINASIONAL DALAM POLITIK DUNIA. Nama bekennya, MNC. Merupakan salah satu mata kuliah pilihan untuk semester 4, selain Migrasi Internasional dan Hukum Perdata Internasional. Mengapa saya pilih mata kuliah ini daripada yang lainnya adalah karena menurut saya bahasan MNC ga akan ada habisnya. Mau dibahas dalam perspektif manapun, MNC tetaplah menarik. Apalagi sekarang ini, MNC ada di mana-mana, dan merupakan salah satu penyedia lapangan pekerjaan yang memungkinkan untuk dimasuki oleh lulusan jurusan HI.

Selain itu, mata kuliah ini adalah mata kuliah baru. Belum pernah ada sebelumnya di HI UNPAD. Juga menurut dosen pembimbingnya, mata kuliah ini jarang diajarkan di jurusan yang sama di universitas lain. Mungkin hanya sedikit yang membahas MNC menjadi salah satu mata kuliah. Salah satu universitas yang mempunyai MNC sebagai mata kuliah adalah University of South California, dengan Multinational Enterprises in Global Politics.

Mengenai dosennya, saya baru kenal Bu Viani, atau yang lebih sering dipanggil Teh Viani. Beliau adalah dosen mata kuliah Pengantar Ekonomi di semester 1. Dan saya akui, Teh Viani adalah satu dari sekian dosen HI UNPAD yang bisa diandalkan. Untuk dosen utamanya, Pa Widya, saya belum pernah ketemu, kecuali di account Facebooknya.

Cukup untuk pengantarnya, langsung pada apa yang saya ingin sampaikan di sini.

Judul di atas merupakan hasil dari pertanyaan saya di kelas siang ini. Perkuliahan hari ini sebenarnya membahas apa itu MNC dan bagaimana perkembangannya secara umum. Dan seperti biasanya, setiap hampir akhir perkuliahan, sang dosen akan memberikan waktu untuk pertanyaan, yang sayangnya terkadang mahasiswa memilih untuk diam karena injury time. Termasuk saya juga sih, dengan alasan yang berbeda tentu saja, karena memang kalau ga ada yang perlu ditanyakan, saya memilih untuk diam.

Tapi tidak untuk kali ini, karena ada sesuatu di pikiran saya, dan juga belum injury time...

Jadi saya pun bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi, MNC membuat gaya hidup baru di masayarakat, atau justru gaya hiduplah yang memberikan kesempatan kepada MNC untuk berkembang?" Wew, saya terkagum sendiri lho dengan pertanyaan ini, karena biasanya saya malas bertanya, kecuali di tutorial, apalagi kalo bertanya sampe tataran filosofisnya. Saya, yang orangnya simple, lebih memilih untuk diam dan mencatat.

Nah, ternyata pertanyaan saya ini cukup membuat kelas menjadi dinamis, dalam artian banyak yang mengemukakan pendapat, dengan parameter biasanya kelas saya cenderug statis, maka ini adalah sebuah kemajuan. Ada yang berpendapat bahwa MNC akan membuat budaya baru. Yang dimaksud di sini adalah bahwa dengan adanya produk yang ditawarkan MNC, masyarakat akan meliahtnya sebagai sesuatu yang baru, sehingga sebuah kebiasaan/ life styles/budaya baru akan terbentuk. Antitesis nya adalah bahwa jika produk tersebut tidak ada, maka tidak akan terjadi perubahan dalam masyarakat. Entah perubahan itu negatif datau postif, itu adalah ekses dari sebuah perubahan, dan ini tergantung dari bagian mana kita memandangnya dan menjalaninya. Pendapat kedua, yang bisa dibilang berseberangan dengan pendapat yang pertaman, adalah bahwa MNC melihat budaya tersebut sudah ada di masayarakat, sehingga investasi atau pengenalan produk baru sangat dimungkinkan. Mungkin logika berpikir di pendapat ini adalah bahwa ketika MNC akan berinvestasi, budaya tersebut sudah ada, sehingga akan mudah bagi perusahaan tersebut untuk memasarkan produknya. MNC tidak akan mengambil resiko besar dengan tidak mempertimbangkan karakteristik masayarakatnya ketika akan berinvestasi, atau dengan bahasa lain tidak mempertimbangkan faktor internal dari masyarakatnya.

Lalu, mana yang benar? Atau menurut Pa Widya, pertanyaan ini adalah mana yang lebih dulu, ayam atau telurnya?

Mari beranalisis....

Pertama, pendapat bahwa budaya diciptakan oleh MNC. Ketika sebuah MNC masuk ke suatu negara, dan banyaknya melalu waralaba, MNC tersebut bukan hanya membawa produk baru atau sistem manajemen baru pada masayarakatnya. MNC ini juga membawa budaya, the values of culture. Sebagai contohnya adalah Strabucks. Gerai kopi yang berasal dari Amerika Serikat ini membawa budaya minum kopi. Bahwa sebenarnya kopi dapat dikonsumsi siapa saja. Ketika selama ini kopi diidentikan dengan orang dewasa, pegawai kantoran, hingga masayarakat kelas bawah, Starbucks membuat kopi menjadi gaya hidup. Lihat saja gerainya yang memang dapat ditemui di pusat perbelanjaan atau jalan protokoler. Tentu saja target pasar Strabucks adalah mereka yang memang biasa hang out di mall, lebih spesifik lagi anak muda. Lihat saka bahwa saat ini mayoritas anak muda, yang memang mempunyai uang saku lebih, akan lebih memilih untuk ngopi di Starbucks, tentu saja tidak semua berpikiran seperti itu. Lalu apa yang dijual Starbucks sebenarnya? Kopi? Atau gaya hidup? Saya lebih berpikiran pada opsi yang kedua, bahwa ketika anda membeli satu cup Vanilla Latte, yang anda ingin dapatkan bukan hanya Vanilla Latte saja, tapi juga atmosfer minum kopinya. Itulah yang sebenarnya dijual. Satu kali, saya pernah menyambangi gerai Starbucks di Cihampelas City Walk dan memang yang saya liaht adalah sekumpulan anak muda yang memang mencari atmosfer minum kopi. Orang yang memang addict caffein mungkin akan lebih memilih gerai kopi lain yang lebih dapat dijangkau kantong, namun lebih enak dari Starbucks.

Kedua, budaya yang telah ada memungkinkan MNC berinvestasi. Untuk ini, Starbucks lagi-lagi bisa menjadi contoh. Sempatkah terlintas di pikiran anda bahwa Indonesia mempunyai budaya nongkrong? Berapa banyak kedai kopi yang ada di sepanjang jalanan? Siapa yang menjadi konsumennya? Ya, lagi-lagi ini menjadi jawaban bahwa adanya Starbucks mengakomodir kalangan kelas atas untuk mempunyai tempat minum kopi yang nyaman. Target konsumennya jelas, eksekutif muda yang menyukai kopi dan butuh asupan caffein secara instan serta anak muda yang lebih suka pusat perbelanjaan daripada pasar tradisional. Inilah celah yang menjadi lahan MNC. Belum terjamah namun prospeknya menjanjikan.

Akhirnya, seperti yang Pa Widya kemukakan, pertanyaan ini harus dilihat dari dua sisi.

Sekian,

David.

PS. Posting ini mulai saya ketik ketika pertemuan pertama mata kuliah ini dan saya selesaikan setelah UAS. Hahaha.. Ternyata, saya sibuk juga...

PPS. Jujur, saya lebih memilih untuk menyeduh kopi instan di kamar kosan meskipun rasanya tidak seenak Starbucks. Tapi, bukankah cukup gila untuk membayar hampir Rp. 40.000 untuk satu cup Medium Ice Vanilla Latte with Light Sugar... ;P


No comments: