Sunday, September 30, 2007

Awalnya Saya Minder

Buat kamu-kamu yang kuliah di kota besar dan berasal dari kota kecil, I mean benar-benar kecil (gak adaMc Donald's apalagi J.Co), pastinya kamu mengalami cultural shock. Ya, semacam kebingungan dengan budaya kota hingga akhirnya kamu ngerasa minder dan ngejudge diri kamu sendiri bahwa kamu gak akan bisa ngikutin mereka atau berteman dengan mereka. Pernahkah?



Saya mengalaminya!! Meskipun saya pernah tinggal di Bandung dan tau gimana gaulnya anak Bandung, tapi itu 6 taun yang lalu. Ketika BSM belum ada. CiWalk belum ada. Masih ada Sultan Plaza yang ada tempat maen yang gede banget itu. Dan tentu saja Bandung belum seperti saat ini. Nah, culture shock yang saya rasakan bukan karena Bandungnya, tapi lebih karena temen-temen saya.




HI UNPAD bisa ibaratkan seperti sebuah melting pot. Semua jenis mahasiswa ada di sini. Mau yang kayak gimana ada deh... Nah, ternyata banyak anak-anak Jakarta juga di sini (hai, Kahirul!.. hai, Fahmi!...). Pertama saya tau banyak anak yang seharusnya menggunakan jaket kuning datang dan menginvasi ke Jatinangor dan akan menghabiskan waktunya sekitar 3 sampai 4 tahun di sini, saya langsung minder.


Pastinya, di banyak pikiran orang, Jakarta merupakan pusat segalanya. Pusat negara kita tercinta ini. Pusat segala gaya yang akhirnya dicontek dengan biadab oleh anak-anak hingga anak muda di seluruh negeri ini. Nah, untuk masalah gaya da otaklah saya sempet minder setengah mati.


Dalam pikiran saya yang paling dalam sih, anak luar kota, terutama kota besar itu :



  • Pinter


  • Gaul


  • Punya gaya yang oke banget


  • dan tentu saja, bakal sangat beredar di kalangan calon diplomat cewek.... Hahahhahaha

Semua yang ada dipikiran saya itu akhirnya memuncak menjadi satu kesimpulan : bahwa saya akan sangat susah menjadi teman mereka, bahwa mereka akan susah menerima saya. Intinya, saya minder akut, sumpah!


Ternyata, apa yang menjadi asumsi saya selama ini, tidak terbukti. Terima kasih buat Khairul, salah satu sahabat saya sekarang, yang telah memutar balikkan pikiran saya mengenai anak-anak dari kota besar. Ghulaam juga deh, secara dia ada di sebelah saya dan memaksa untuk dimasukkan!!! Mereka tidak seperti yang saya khawatirkan. Mereka baik dan menerima saya apa adanya.

Impresi saya mulai berubah ketika mengantri di Dipati Ukur untuk Medical Check Up. Itulah pertama kalinya saya bertemu dengan MaBa Hi 2007. Saya bertemu Bima, Aya, dan lain-lain, meskipun mereka belum kenal dengan saya. Kenapa Khairul yang merubah impresi saya terhadap anak Jakarta?

Saya menyapa dia. Menanyakan hal-hal umum. Dia sms-an. Dia pinjem pensil. Setelah itu, setiap ketemu (di Graha Iwa K, di Jatinangor) dia yang selalu nyapa saya duluan....

Hal itu aja udah ngebuktiin kalo mereka tidak seperti yang saya pikirkan...

Well, sekarang saya sudah mulai merasa nyaman di sini...

No comments: